Mbah Kiai Manan, Pecinta Ilmu yang Tawadlu' (Bag. 2)


Oleh: Ayunk Notonegoro

Kecintaan KH. Abdul Manan pada ilmu tak perlu diragukan lagi. Hampir seluruh hidupnya diwakafkan untuk ilmu, wa bil khusus ilmu agama. Sedari belia ia abdikan dirinya dari satu pesantren ke pesantren yang lain untuk menuntut ilmu. Bahkan, saat telah berkeluarga, ghirah-nya mencari ilmu tak pernah surut.

Setelah sembilan tahun lamanya mondok di Hijaz, Kiai Manan dinikahkan dengan seorang perempuan di Pare, Kediri. Akan tetapi, pernikahan itu tak berlangsung lama. Beliau memutuskan untuk furqoh. Perpisahan dengan istrinya tersebut dipicu dengan adanya beberapa ketidakcocokan. Salah satunya, karena ia tak lagi bisa merasakan lezatnya tholabul ilmi.

Seusai berpisah dengan istri yang tak sempat dikaruniai anak tersebut, putra kedua Kiai Mohammad Ilyas, Grampang Kediri itu, memutuskan untuk kembali luruh ilmu. Dahaganya akan ilmu agama belumlah terpuaskan. Ia menuju ke Banyuwangi untuk mondok kembali di Pesantren Jalen asuhan ulama asal Sunda, KH. Abdul Basyar (w. 1915).

Kecintaan Mbah Manan - sapaan karib Kiai Manan - pada ilmu juga tanpak saat beliau mulai merintis Pesantren Minhajut Thullab Sumberberas Muncar. Ia menanggung semua biaya hidup para ustadz yang mengajar di pesantrennya. Beberapa ustaz yang dinilainya cakap, langsung ia jadikan menantu. Biasanya, para menantu tersebut, akan dipasrahi sebidang tanah untuk dijadikan pesantren baru.

"Tidak hanya ustad-ustadnya saja yang dibiayai oleh beliau, bahkan santri-santrinya juga. Jika ada santri yang ketahuan tidak mampu membeli kitab, maka beliau akan membelikannya. Jika pas tidak punya uang, beliau tidak segan untuk ngeredit (kredit), kitab itu," cerita salah seorang putranya, KH. Fakhruddin Manan.

Akan tetapi, meski memiliki keilmuwan yang mumpuni, Mbah Manan merupakan sosok yang tawadlu. Ia bukanlah tipikal kiai yang mendedah ilmunya kapan dan dimana saja. Beliau bahkan tak banyak waktunya yang dipergunakan untuk mengajar di pesantrennya sendiri.

"Abah," kenang Gus Pukul - sapaan karib KH. Fakhruddin Manan, "ngajar kitab di pesantren itu, tidak banyak. Paling-paling hanya Kitab Hikam dan Tafsir Jalalain."
Selebihnya, pengajaran dipasrahkan kepada santri-santrinya yang senior dan sudah mumpuni yang kelak banyak diambil menantu.

Kecenderungan Mbah Manan untuk tak menonjolkan kedalaman ilmunya, juga tampak dari cara mengajarnya. Saat 'mbalah' kitab dihadapan para santrinya, Mbah Manan jarang sekali memberikan penjelasan dan tak jarang menabrak kaidah-kaidah gramatikal bahasa Arab. "Mbah Manan itu kalau ngaji kitab tidak terlalu memperhatikan Nahwu Shorof-nya. Kadang rofa' dibaca nasob dan sebaliknya," cerita salah seorang cucunya, Gus Ishom.

Atas kebiasaan tersebut, pernah terjadi kejadian yang menarik. Suatu hari ada seorang santri yang berasal dari Jawa Barat hendak mondok di Minhajut Thullab. Sebenarnya, ia bukanlah santri yang masih awam, tapi sudah memiliki bekal yang cukup tentang ilmu-ilmu pesantren seperti halnya Nahwu Shorof.

Setelah diterima oleh Mbah Manan, santri itu pun mulai ikut mengaji. Namun, si santri tersebut terperanjat saat mengetahui cara mengaji kitab ala Mbah Manan yang tak taat kaidah bahasa itu. "Saya ini mengaji biar tambah pintar, kok disini kiainya malah ngawur kalau ngaji," protes si santri dalam hatinya seusai mengaji. Ia tak puas dengan cara mengajar Mbah Manan.

Keesokan harinya, si santri kembali mengaji. Ketakpuasan kemarin masih terpancar dari dirinya. Namun, ketakpuasan tersebut seketika sirna dan berubah menjadi perasaan bersalah dan malu pada si murid baru. Tak biasa-biasanya Mbah Manan mengaji disertai keterangan. Saat itu, Mbah Manan mengupas setiap larik kitab secara komprehensif. Tidak hanya uraian tentang isi, tapi juga tentang kedudukan i'rab-nya. Nahwu dan shorof-nya ia terangkan lengkap dengan menyitir nadzam Alfiyah-nya sebagai landasan argumentatif.

Seketika, hari itu pula, si santri pamit boyong pada teman kamarnya. "Aku malu sama kiai. Beliau tahu telah aku gremengi (protes di dalam hati)," ujar si santri sebagaimana diceritakan ulang Gus Ishom.

Ketawadluan Mbah Manan dan kecintaannya pada ilmu tak hanya sebatas itu. Mbah Manan tak segan untuk belajar kembali kepada santri-santrinya atau menantunya yang ia pandang alim. Seperti halnya Kiai Askandar.

Mbah Kiai Manan dan Kiai Askandar

KH. Askandar adalah seorang kiai muda yang juga berasal dari Kediri. Jika dirunut-runut, secara nasab Kiai Manan dan Kiai Askandar masih bersaudara. Meski secara usia lebih sepuh Kiai Manan, tetapi secara nasab lebih tua Kiai Askandar. Maka, Mbah Manan pun memanggilnya Mas Kandar. Sebagai bentuk penghormatan.

Kiai Kandar sendiri sejatinya adalah murid dari Kiai Manan. Saat di Pesantren Jalen, Kiai Kandar belajar kepada Kiai Manan yang saat itu telah diambil menantu oleh pengasuh Pesantren Jalen. Bahkan, kelak, Kiai Kandar tak hanya menjadi muridnya, tapi juga menjadi menantunya. Ia dinikahkan dengan putri Mbah Manan, Siti Robi'ah.

Meski sebagai guru sekaligus mertua, penghormatan Mbah Manan pada Kiai Kandar tak bergeser sedikit pun. Ia tetap memanggil menantunya itu dengan panggilan Mas Kandar.

Suatu waktu, tatkala Kiai Kandar sudah mulai berpisah dengan Pesantren Minhajut Thullab dan mulai merintis pesantren sendiri tak jauh dari pondok mertuanya itu - Pesantren Mambaul Ulum - beliau mengadakan pengajian kitab Ihya' Ulumuddin kepada para santrinya. Mendengar hal itu, tanpa ragu dan gengsi, Mbah Manan pun ikut mengaji. Tak tanggung-tanggung, ia ikut mengaji kitab karya Imam Ghazali tersebut hingga khatam.

Bahkan, saat khataman tersebut, sebagai bentuk tasyakur, Mbah Manan menyembelih dua ekor sapi yang saat itu harganya lebih mahal ketimbang harga sebidang tanah. Bagi Mbah Manan, untuk menuntut ilmu, tak ada penghalang menuntut kepada siapa saja. Entah menantu atau pada santrinya, asal ia memang layak untuk mengajarkan ilmu itu.

Tak ayal relasi yang demikian membuat hubungan mertua-menantu, kakak-adik, guru-murid tersebut menjadi "rumit". Satu sama lain, saling berebut untuk memberi penghormatan. Seperti halnya saat idul fitri, kedua ulama besar bumi Blambangan tersebut, berebut untuk lebih dahulu berkunjung ke kediaman masing-masing. Sungguh teladan yang amat berharga. (*)

Banyuwangi, 10 Juli 2017
______________________



Ayunk Notonegoro (Penggiat Komunitas Pegon yang bergerak untuk mendokumentasi dan mempublikasi khazanah pesantren dan NU di Banyuwangi)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mbah Kiai Manan, Pecinta Ilmu yang Tawadlu' (Bag. 2)"

Post a Comment

close