Para Ulama "Tersembunyi" Di Bumi Bung Karno


Oleh: Ahmad Karomi

Blitar, adalah salah satu kota kecil yang dikenal sebagai Bumi Bung Karno. Konon Blitar diambil dari kata "Baliyo Tartar"(ungkapan agar tentara Tartar pulang ke negara asalnya). Ada pula yang mengaitkan Blitar dengan Dewi Kilisuci. Namun ada juga yang mengartikan Blitar sebagai kejadian kosmologi letusan Kelud membumi abu-kan kota yang dijuluki Patria ini. Tak pelak sebagian daerah ada yang bernama Udan Awu (Hujan Abu).

Bila menyebut kata Blitar ada dua Tokoh yang tidak mungkin terlepas begitu saja; Pertama, Bung Karno,  dengan hadirnya sosok Bung Karno di Blitar, sama dengan mengangkat nama kota ini di kancah internasional. Kedua, PETA (Pembela Tanah Air) yang dikomandoi Sudanco Supriyadi. Dua Tokoh Nasional ini seakan menegaskan bahwa Blitar adalah Kota patriot yang belakangan lebih familier disebut Kota Patria. Lantas, bagaimana kiprah Ulama (Kiai) di Blitar tempoe doeloe di kota yang pernah mendapat sentuhan dingin Djarot Saiful Hidayat ini?!

Menurut penuturan alm. Mbah Sripujo, Mlangi, pasca peperangan Diponegoro, banyak tentara Diponegoro bersembunyi di daerah-daerah terpencil. Persembunyian itu bukanlah bentuk ketakutan terhadap penjajah, akan tetapi sebagai salah satu bentuk strategi melawan kompeni. Mengapa lari ke daerah pelosok?! Sebab grand design para tentara Diponegoro adalah membentuk pasukan dari kalangan rakyat dengan mendirikan posko yang bernama pesantren.

Tak dipungkiri sebagian besar, pesantren di Jawa memiliki genealogi Diponegoro, ciri khasnya berupa surau, masjid, pemondokan yang diisi kegiatan agama sekaligus pengkaderan. Dan ada satu "tetenger" (tanda) berupa pohon sawo sebagai perlambang sama-sama dari Kulon. Mengapa yang dipilih sawo? sebab sawo diambil dari kata sawa'un atau sama, yang artinya sama-sama memiliki darah dari Kulon (Barat).

Adalah KH. Abu Mansur, salah satu ulama berdarah Kraton yang juga masih terhitung kerabat dengan Diponegoro, menyembunyikan identitasnya di kota Blitar. Beliau menyaru sebagai rakyat biasa dan nyantri di pondok Kuningan, Blitar, dibawah asuhan KH. Abu Hasan. Siapakah KH. Abu Hasan? Menurut tutur kisah, beliau berasal dari Batu Ampar Madura yang masih kerabat dengan Sesepuh-sesepuh Batu Ampar Syekh Abu Syamsuddin. Bahkan suatu ketika setelah Gus Dur lengser, sempat berkunjung di Kuningan Blitar lalu dawuh "salah satu guru Mbah Hasyim Asyari dimakamkan disini".

Abu Mansur yang disinyalir berasal dari trah Kyai Nur Iman (kakak Hamengku Buwono l), Mlangi, diunduh mantu oleh KH. Abu Hasan Kuningan. Dari sini, lahirlah cucu-cucu KH . Abu Hasan yang ikut berjuang "mbabat alas" menyebarkan agama Islam. Mereka adalah: KH. Sholeh, Blitar (wafat 1933), KH. Abu Ma'syar, Blitar, KH. Manshur, Blitar (wafat 1964), KH. Muharrom, Karang Kates Kediri. KH Hamam (Blitar), KH Imam Royan (Blitar), KH Umar (Blitar), dan KH Zahid (Blitar).

Pernah suatu ketika, Romo KH. Nurul Huda Djazuli, Ploso dawuh "Cikal bakale Kiai-Kiai Blitar soko putra-putrane KH. Abu Manshur", Bahkan di Kediri ada KH. Muharrom Karang Kates, karib Mbah Hasyim Asyari, yang juga pernah menjadi Ayah Mertua KH. Ahmad Djazuli Ploso.

Bagaimanakah Profil para putra-putra KH. Abu Manshur atau cucu-cucu KH. Abu Hasan ini?! Konon Putra pertama KH. Abu Manshur, yakni KH. Sholeh Kuningan pernah bertemu langsung dengan KH. Sholeh Darat, Semarang dan debat perihal Ilmu Tauhid. (Bersambung)

21 Ramadhan 1438/16 Juni 2017
______________________________________


Ahmad Karomi (Sekretaris PW LTN NU Jatim)



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Para Ulama "Tersembunyi" Di Bumi Bung Karno"

Post a Comment

close