Para Ulama Nusantara di Haramain (Abad XIX-XX)



Oleh: Rijal Mumazziq Zionis

Syekh Said Ramadan al-Buthy, ulama Suriah yang syahid akibat bom saat mengajar di Masjid Damaskus, pernah menyampaikan prediksi bahwa mercusuar Islam bagi dunia untuk 10 hingga 20 tahun mendatang bukan di Timur Tengah, melainkan Indonesia. Kok bisa? Sebab, selain kondisi Timur Tengah yang saat ini sangat tidak stabil dan tidak kondusif bagi kemajuan peradaban Islam, beliau melihat bahwa sejak dulu, umat Islam Indonesia memiliki karakteristik yang khas dan reputasinya dalam melahirkan ulama kelas dunia. Ya, sebelum pemerintah Arab Saudi membuat kebijakan membatasi peranan ulama non-pribumi, ulama-ulama asal Nusantara telah memainkan peranan penting dalam keilmuan Islam di Haramain (Makkah dan Madinah) pada kurun abad ke XVII hingga awal abad XX.

Azyumardi Azra, dalam “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVII: Akar Pembaharuan Islam Indonesia” menyebutkan bahwa hubungan antara Nusantara dengan Haramain memiliki corak spesial karena pada abad ke XVII dan XVIII banyak ulama Nusantara yang ke Haramain guna menuntut ilmu lalu pulang dan menyebarkan ilmunya di Nusantara. Mereka berguru pada ulama-ulama internasional di sana, dan kemudian menyebarkan ilmunya di Nusantara, meski sebagian kembali ke Haramain dan wafat di sana. Jaringan ulama internasional yang telah dibina oleh para ulama Nusantara ini dipererat dengan solidaritas sebagai bangsa jajahan karena kolonialisme pada era tersebut banyak menimpa negeri-negeri muslim.

Seiring dengan dibukanya Terusan Suez, 1870, jumlah pelajar dan jamaah haji asal Nusantara semakin meningkat pula. Banyak di antara mereka yang memilih mukim di Haramain untuk belajar selama bertahun-tahun. Kehidupan di tanah rantau yang keras ini semakin memperat ikatan emosional dan solidaritas bangsa Melayu sehingga mereka mendirikan kampung Jawa di Makkah. Bahkan, di dalam kitab-kitab klasik, apabila disebut “Jawiy” maka itu yang dimaksud adalah wilayah Nusantara yang meliputi Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara Barat. Keberadaan kampung Jawa di kota suci ini juga ditopang dengan reputasi beberapa ulama Nusantara yang menjadi pengajar di Masjidil Haram. Hampir dipastikan, setiap periode, terdapat minimal satu ulama Nusantara yang menjadi guru besar di Haramain.

Jaringan ulama Nusantara yang ada di Haramain ini, sebenarnya bisa ditelusuri lebih lanjut sejak abad ke-17 dan ke-18, pada saat para pelajar Nusantara yang kelak menjadi ulama terkemuka belajar di kawasan Timur Tengah, seperti Syekh Abdurrauf As-Sinkili, Syekh Saifurrijal al-Azhari, Syekh Yusuf al-Maqassariy, Syekh Arsyad al-Banjary, Syekh Abdul Wahab al-Bugisy, Syekh Ahmad Mutamakkin, Syekh Ahmad Arrifai, Syekh Abdusshamad al-Falimbani, dan sebagainya. Generasi mereka dilanjutkan oleh generasi berikutnya, yang saling bertautan satu dengan yang lainnya.

Koneksi akademis dan spiritual satu ulama dengan ulama lainnya, sezaman maupun antar beberapa generasi, membentuk hubungan guru dengan guru yang terbentuk secara vertikal, maupun guru dengan murid yang bisa pula disebut relasi horizontal. Bentuk hubungan ini tidak berjalan secara organisatoris dalam struktur hierarkis, meskipun jika dipandang dari dunia akademis modern, tetap saja berlangsung dengan ketat. Mobilitas para guru dan murid yang relatif tinggi memungkinkan pertumbuhan jaringan ulama sehingga mengatasi batas-batas wilayah, perbedaan asal etnis, dan kecenderungan keagamaan dalam hal madzhab dan sebagainya.

Amirul Ulum, dalam “Ulama-Ulama Aswaja Nusantara yang Berpengaruh Di Negeri Hijaz” menyebutkan tak kurang dari 30 ulama Nusantara yang berpengaruh pada akhir abad ke XIX hingga awal abad XX. Mereka berasal dari Bogor, Padang, Yogya, Rembang, Banjarmasin, Bawean, Pacitan, Banyumas, Yogyakarta, dan sebagainya. Mereka mengukir keharuman di bidang keilmuan masing-masing.

Melalui keberadaan para ulama Nusantara (Indonesia) di Haramain ini, kita dapat menemukan titik tumpu koneksi ulama Nusantara dengan ulama Timur Tengah sebagai bagian dari proses transmisi ajaran Islam, dan dinamika yang terjadi dalam proses transmisi ini. Misalnya, seorang murid Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, yaitu Syekh Mahmud al-Masri, menghimpun biografi ulama Nusantara abad 14 Hijri sekaligus guru-guru Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, melalui kitab Tasynif al-Asma' bi Ijazah as-Syuyukh wa al-Sama'. Di dalam kitab ini terdapat sekira 30 ulama Nusantara yang peenah berkiprah di Masjidil Haram, di mana sebagian dari mereka sangat asing dan tidak populer di Indonesia. Untunglah, dengan karya itu, Syekh Mahmud al-Masri berhasil mendokumentasikan nama-nama ulama kita yang berperan penting dalam transmisi keilmuan di Haramain.

Hanya saja dalam makalah ini, penulis tidak mengupas keseluruhan ulama Nusantara yang berkiprah di Haramain, namun hanya beberapa saja, yang penulis anggap memiliki jejak gemilang, reputasi jempolan dan jejaring murid yang berkiprah di bidang keilmuannya masing-masing.

1. Syekh Nawawi Al-Bantani

Syekh Muhammad Nawawi bin Umar Al-Bantani kerap disebut sebagai “Imam Nawawi Kedua”. Gelar ini diberikan oleh Syekh Wan Ahmad bin Muhammad Zain Al-Fathani. Ulama yang juga berjuluk “Sayyid Ulama Hijaz” ini lahir dengan nama Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi. Ulama besar ini hidup dalam tradisi keagamaan yang sangat kuat. Ulama yang lahir di Kampung Tanara, sebuah desa kecil di kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Propinsi Banten (Sekarang di Kampung Pesisir, desa Pedaleman Kecamatan Tanara depan Mesjid Jami’ Syekh Nawawi Bantani) pada tahun 1230 H atau 1815 M ini bernasab kepada keturunan Maulana Hasanuddin putra Sunan Gunung Jati, Cirebon. Keturunan ke-12 dari Sultan Banten. Nasab dia melalui jalur ini sampai kepada Baginda Nabi Muhammad saw.

Setiap kali mengajar di Masjidil Haram, ia selalu dikelilingi sekitar 200-an orang. Pernah pula diundang ke Universitas Al-Azhar, Mesir, untuk memberi ceramah atau fatwa-fatwa pada beberapa perkara khusus. Ia juga merupakan ulama dan intelektual yang sangat produktif menulis kitab, yang meliputi bidang-bidang  fiqih ,  tauhid ,  tasawuf ,  tafsir , dan  hadis . Di antara kitab karyanya yang masih dikaji di pesantren adalah Nihayatuz Zain, Nashaihul ‘Ibad, Tafsir Marah Labid, Uqudul Lujain, dan sebagainya. Total jumlah karyanya mencapai tidak kurang dari 115 kitab.

Banyak murid-muridnya yang di belakang hari menjadi ulama, misalnya K.H.  Hasyim Asyari  (Pendiri  Nahdlatul Ulama ),  KH. Khalil Bangkalan , KH.  Asnawi Kudus , KH. Tb.  Bakrie Purwakarta , KH.  Arsyad Thawil , dan lain-lainnya. Dia juga memiliki pengaruh terhadap ulama yang memimpin aksi pemberontakan Cilegon, Banten, 1888.

 Melalui kedalaman ilmunya, berbagai karyanya, dan jaringan para muridnya, Syekh Nawawi memainkan peranan penting sebagai salah satu ulama terkemuka di pengujung abad ke-19 di Nusantara dan Haramain. Martin Van Bruinessen, dalam Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat: Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia, mencatat apabila karya-karya Syekh Nawawi merupakan bagian tak terpisahkan dari kurikulum di pesantren, khususnya jaringan para muridnya, maupun jaringan murid dari muridnya Syekh Nawawi.

2. Syekh Muhammad Mahfudz bin Abdullah At-Tarmasi

Nama lengkapnya Muhammad Mahfudz bin Abdullah At-Tarmasi. Populer disebut Syekh Mahfudz Tremas. Dialah ulama Jawa paling berpengaruh pada zamannya. Syekh Muhammad Mahfuz Termas lahir di Termas, Pacitan, Jawa Timur, pada 12 Jumadil Ula 1285 H/31 Agustus 1868 M, dan bermukim di Makkah sampai beliau wafat pada 1 Rajab 1338 H/ 20 Mei 1920 M.
Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa karangan Syekh Mahfudz mencapai lebih 20 karangan. Mengingat karyanya itu, tidak berlebihan kiranya jika Syekh Yasin Al-Padani, ulama Makkah asal Padang, Sumatra Barat, yang berpengaruh pada tahun 1970-an, menjuluki Syekh Mahfudz At-Tarmasi: al-alamah, al-muhadits, al- musnid, al- faqih, al-ushuli dan al- muqri.

Yang menarik, kitab-kitab karangan Syekh Mahfudz tidak hanya dipergunakan oleh hampir semua pondok pesantren di Indonesia, tapi konon banyak pula yang dipakai sebagai literatur wajib pada beberapa perguruan tinggi di Timur Tengah, seperti di Maroko, Arab Saudi, Iraq dan negara-negara lainnya. Bahkan sampai sekarang di antara kitab-kitabnya masih ada yang dipakai dalam pengajian di Masjidil Haram.

3. Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi

Satu-satunya orang non-Arab yang menjadi imam besar Masjidil Haram di Makkah adalah seorang Minang bernama Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, di akhir abad 19 dan awal abad 20 an. Selain itu, ia juga menjadi Mufti Mazhab Syafi’i yang disegani. Reputasinya sebagai seorang ahli fikih membuat banyak banyak orang memilih berguru kepadanya.
Nama lengkapnya adalah Ahmad Khatib bin Abdul Latif al-Minangkabawi, lahir di Koto Gadang, IV Koto, Agam, Sumatera Barat, pada hari Senin 6 Dzulhijjah 1276 H (1860 Masehi) dan wafat di Makkah hari Senin 8 Jumadil Awal 1334 H (1916 M).

Awal berada di Makkah, ia berguru dengan beberapa ulama terkemuka di sana seperti Sayyid Bakri Syatha, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, dan Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makkiy. Banyak sekali murid Syekh Khatib yang diajarkan fiqih Syafi’i. Kelak di kemudian hari mereka menjadi ulama-ulama besar di Indonesia, seperti Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) ayahanda dari Buya Hamka; Syekh Muhammad Jamil Jambek, Bukittinggi; Syekh Sulaiman Ar-Rasuli, Candung, Bukittinggi, Syekh Muhammad Jamil Jaho Padang Panjang, Syekh Abbas Qadhi Ladang Lawas Bukittinggi, Syekh Abbas Abdullah Padang Japang Suliki, Syekh Khatib Ali Padang, Syekh Ibrahim Musa Parabek, Syekh Mustafa Husein, Purba Baru, Mandailing, dan Syekh Hasan Maksum, Medan, hingga KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan.

Meskipun tinggal di Makkah, namun ia tak melupakan kampung halamannya. Kepakarannya dalam  mawarits  (hukum waris) telah membawa pembaharuan adat Minang yang bertentangan dengan Islam.  Martin van Bruinessen , dalam “Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat” mengatakan, karena sikap reformis inilah akhirnya al-Minangkabawi semakin terkenal.

 Salah satu kritik Syekh Ahmad Khatib yang cukup keras termaktub di dalam kitabnya Irsyadul Hajara fi Raddhi 'alan Nashara. Di dalam kitab ini, ia menolak doktrin trinitas Kristen yang dipandangnya sebagai konsep Tuhan yang ambigu. Syekh Khatib juga melontarkan kritik terhadap praktek tarekat yang dianggap menyimpang. Selain itu, beliau sempat berpolemik dengan Syekh M Hasyim Asy'ari mengenai Sarekat Islam, menurut pertimbangan manfaat dan madaratnya. Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari menulis Kaff al-Awam, pada 1912, sedangkan sanggahannya dilontarkan oleh Syekh Khatib melalui Tanbih al-Anam yang ditulis dua tahun berselang. Ulama besar ini wafat di  Mekkah  hari Senin 8  Jumadil Awal  1334 H (1916 M) dengan meninggalkan puluhan karya tulis.

4. Syekh Muhammad Mukhtar Al-Bughuri

Lahir di Bogor, Jawa Barat, pada 14 Sya’ban 1278 (14 Februari 1862). Nama lengkapnya Muhammad Mukhtar bin Atharid Al-Bughuri Al-Batawi Al-Jawi. Pendidikan agamanya didapat langsung dari orang tuanya. Semasa muda, ia telah mampu menghafal Al-Qur’an. Tahun 1299 hijrah ke Betawi (Jakarta) untuk menimba ilmu kepada Sayyid Utsman, Mufti Batavia. Tidak puas juga, ia kemudian menuju ke Makkah. Selama di Makkah, Mukhtar Al-Bughuri belajar kepada ulama termasyhur, Syekh Ahmad Al-Fathani. Ia juga diberi kesempatan untuk mengajar di Masjidil-Haram selama 28 tahun.

 Setiap kesempatan mengajar, ia selalu dikelilingi sekitar 400-an muridnya. Semasa hidupnya telah menulis berpuluh-puluh karya, antara lain kitab Aqaid Ahl As-Sunnah wal-Jamaah, sebuah kitab teologis yang ditulis menggunakan bahasa Sunda yang uniknya diterbitkan oleh penerbit legendaris, Mustafa Bab al-Halabi, Kairo, pada bulan Jumadil Ula tahun 1341 H yang bertepatan dengan Desember 1922.

Selain menjadi guru bagi pendiri Muhammadiyah dan NU, Syekh Mukhtar juga merupakan guru dari Syekh Mahmud al-Banjari (cicit Syekh Arsyad al-Banjari), Syekh Abdullah Fahim (Mufti Pulau Penang), Syekh Mahmud Zuhdi (Mufti Selangor), Sayyid Muhsin al-Musawa al-Falimbani (pendiri Madrasah Darul Ulum Makkah), dan KH. Ahmad Dimyathi bin Abdullah Attarmasi, yang merupakan adik Syekh Mahfidz Attarmasi. Syekh Mukhtar Al-Bughri wafat di Makkah pada 17 Shafar 1349 (13 Juli 1930).

Madrasah Darul Ulum

Selain Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Mahfidz At-Tarmasi, Syekh Khatib Minangkabawi, dan Syekh Mukhtar al-Bughuri, masih ada beberapa nama ulama Indonesia lainnya yang menorehkan tinta emas dalam wilayah spiritual-intelektual di wilayah Haramain. Di antara nama-nama ulama berpengaruh itu tergabung dalam sebuah lembaga bernama Darul Ulum.

Berdirinya Madrasah Darul Ulum ini juga “patriotik”. Pada awalnya para pelajar asal Nusantara menuntut ilmu di Madrasah Shaulatiyah, yang berdiri pada 1875 atas prakarsa seorang ulama keturunan India. Beberapa jebolan madrasah ini menjadi ulama besar seperti KH. M. Hasyim Asy’ari dan Syekh Musthofa Husein Purba, pendiri Madrasah Musthafawiyah, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Karena kebanyakan para pelajar menggunakan bahasa Melayu untuk berkomunikasi, meski dalam pengajaran tetap menggunakan bahasa Arab, namun manakala ada seorang pengajar yang menghina bahasa Melayu, menyobek koran berbahasa Melayu dan melecehkan bangsa Indonesia sebagai orang-orang bodoh yang kesulitan melepaskan diri dari penjajahan, sontak para pelajar tersinggung.

Bukan hanya para pelajar yang geger, beberapa ulama Nusantara yang mengajar di Madrasah Shaulatiyah merasa tersinggung dan segera bermusyawarah. Di antaranya, Syekh Sayyid Muhsin al-Musawa (asal Palembang, wafat 1935), Syekh Zubair bin Ahmad al-Filfulani (asal Penang), Syekh Muhaimin bin Abdul Aziz al-Lasemi (asal Lasem, menantu KH. M. Hasyim Asy’ari), dan Syekh Ahmad Masyhuri. Hasilnya, mereka sepakat mendirikan madrasah diniyah sendiri yang diberi nama Madrasah Darul Ulum pada 16 Syawal 1353/ 1934.

Syekh Sayyid Muhsin al-Musawa didaulat sebagai rektor pertamanya. “Menurut rektor pertama ini, pendirian madrasah ini semata-mata meningkatkan ketakwaan kepada Allah, bukan dalam bertujuan persaingan.” demikian tulis Amirul Ulum dalam “Ulama-Ulama Aswaja Nusantara yang Berpengaruh di Negeri Hijaz” (2015: 119-21).

Setelah Sayyid Muhsin wafat setahun setelah pendirian lembaga ini, jabatannya dilanjutkan oleh seorang ulama muda ahli hadis keturunan Minangkabau, Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, hingga madrasah ini ditutup pemerintah Arab Saudi tanpa alasan jelas. Para pelajar di Darul Ulum bukan hanya berasal dari Nusantara saja, melainkan dari beberapa kawasan lain. Orang Arab juga banyak yang belajar di sini.

Di antara ulama yang menjadi tokoh kunci Madrasah Darul Ulum ini adalah Syekh Yasin bin Isa al-Fadani dan Syekh Muhammad Zainuddin al-Baweyani. Berikut ini paparan singkat mengenai dua ulama Nusantara tersebut.

1. Syekh Yasin bin Isa al-Fadani.

Syekh Yasin dijuluki Musnid Ad-Dunya (pemilik sanad terbanyak di dunia). Gelar itu diberikan kepadanya karena dipandang sebagai orang yang paling banyak memiliki matarantai intelektual bukan hanya di Makkah dan Timur Tengah tapi juga di dunia. Tak kurang dari 700 ulama menjadi gurunya dan dari jalur intelektual ini ia tergolong sebagai ulama yang mutafannin (multitalenta).

Ahli hadis ini lahir di Makkah pada Selasa, 27 Sya’ban 1335H/ 17 Juni 1917 M. Beliau adalah putra dari pasangan Syekh Muhammad Isa bin Udiq al-Fadani dan Maimunah binti Abdullah al-Fadani. Sejak kecil Syekh Yasin sudah menunjukkan kecerdasan yang luar biasa. Bahkan menginjak usia remaja Syekh Yasin mampu mengungguli rekan-rekannya dalam hal penguasaan ilmu hadits, fiqih, manthiq, falak, bahkan para gurunya pun sangat mengaguminya.

Sejak muda, dirinya telah menunjukkan spesialisasinya di bidang hadis. Di antara guru-gurunya adalah Al-Muhaddits as-Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki, As-Sayyid Muhammad Amin al-Kutbi al-Hasani, Al-‘Allamah Khalifah bin Hamd an-Nabhani al-Makki, Asy-Syekh Hasan bin Muhammad bin Abbas bin Ali al-Masysyath al-Maliki, dan sebagainya.

Semenjak geger patriotik di Madrasah Shaulatiyah, Syekh Yasin akhirnya berpindah ke Madrasah Darul Ulum dan sejak 1356 H/1938 M ia mulai mengajar di almamaternya itu.

 Pertengahan tahun 1359 H/1941 M karirnya menanjak sebagai direktur madarasah tersebut. Selain di Madrasah Darul Ulum, Syekh Yasin juga mengajar di Masjidil Haram tepatnya di antara Bab Ibrahim dan Bab al-Wada’, begitu pula di rumahnya dan di kantor sekolahnya.
Rekomendasi untuk mengajar di Masjidil Haram ia peroleh secara resmi tanggal 10 Jumadil Akhir 1369 H/29 Maret 1950 M dari Dewan Ulama Masjidil Haram.

Halaqah beliau mendapat sambutan hangat terutama dari kalangan masyarakat Asia Tenggara dan Indonesia. Di samping itu setiap bulan Ramadhan, ayah dua orang anak ini mengkhatamkan dan mengijazahakan salah satu kitab dari Kutub as-Sittah. Hal ini berlangsung selama 15 tahun.

Para murid-muridnya datang dari pelbagai penjuru dunia. Syekh Ali Jum’ah, mufti Mesir, bahkan mendapatkan sanad hadis melalui Syekh Yasin. Demikian pula dengan Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dan beberapa ulama lainnya. Di Indonesia, KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh, KH. Maimun Zubair, Muallim KH. Syafi’i Hadzami, dan beberapa ulama lain adalah di antara murid Syekh Yasin. Agar ikatan emosionalnya dengan Nusantara tidak pupus, Syekh Yasin seringkali mengadakan kunjungan ke beberapa pesantren-pesantren besar di tanah air.

Selain dikenal sebagai sosok sederhana yang sering berpenampilan santai hingga mengecoh mereka yang belum mengenalnya, yang menarik dari sosok Syekh Yasin adalah, sekalipun beliau adalah seorang ulama tradisional namun ia memiliki pandangan progresif terkait dengan pendidikan bagi kaum perempuan.

Setelah sekian lama menanamkan cita-citanya untuk membangun madrasah putri, pada tahun 1362 H/1943 M, Syekh Yasin mendirikan lembaga pendidikan untuk kaum wanita yang dinamainya dengan Madrasah Ibtidaiyyah lil Banat. Lembaga pendidikan ini merupakan yang pertama di Arab Saudi yang didirikan khusus untuk kaum hawa. Setelah sekolah ibtidaiyah telah banyak dan membutuhkan tenaga pengajar, Syekh Yasin memandang perlu mendirikan lembaga pencetak guru wanita. Maka pada bulan Rabi’ul Akhir tahun 1377 H beliau mendirikan Ma’had lil Mu’allimat.

Meskipun masih bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Melayu, namun saat berkarya, Syekh Yasin memilih Bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi. Tak kurang dari 100 karya berbagai cabang keilmuan telah ia hasilkan. Sehingga, tak kurang dari al-Habib Saqqaf bin Muhammad Assegaf, ulama Hadramaut, menjulukinya sebagai “Imam Suyuthi abad ini”.

Setelah sekian lama membaktikan dirinya dalam pengembangan ilmu agama, Syekh yasin bin Isa al Fadani al-Makki berpulang ke hadhiratNya pada hari Jum’at tanggal 27 Dzulhijjah tahun 1410 H/ 20 Juli 1990 M dalam usia 75 tahun.

2. Syekh Muhammad Zainuddin al-Baweyani (1915-2005)

Selain Syekh Yasin, terdapat nama Syekh Zainuddin al-Baweyani. Ulama keturunan Bawean yang menghabiskan usianya di Makkah ini terkenal sebagai pribadi yang rendah hati dan dikaruniai suara merdu. Gurunya, Syekh Amin al-Kurdi, pernah memintanya melantunkan qasidah pujian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Selain beberapa kali berdakwah di tanah air, Syekh Zainuddin memiliki reputasi sebagai mubaligh untuk kawasan Yaman dan beberapa negara Timur Tengah lain.

Di masa muda, ia berguru kepada beberapa ulama Haramain, di antaranya, Syekh Amin al-Kurdi, Syekh Umar Hamdan al-Mahrusi, Syekh Muhammad Baqir al-Jugjawi (asal Yogyakarta), dan Sayid Muhsin al-Musawa (asal Palembang), dan tentu saja kepada Syekh Muhammad Yasin bin Isa al-Fadani yang juga sahabat dekatnya. Karena memiliki reputasi bagus sebagai guru yang memiliki sanad keilmuan dengan beberapa ulama, maka dalam soal ini ia juga menjadi jujugan beberapa ulama yang ingin meriwayatkan ilmu dari beliau. Bahkan, Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, salah seorang ahli hadis terkemuka di masa kini, menjelang kewafatannya pada 2004 masih menyempatkan diri mengambil riwayat keilmuan dari Syekh Zainuddin.

Pribadi yang lebih suka tampil bersahaja ini memiliki beberapa karya tulis, di antaranya al-Fawaidu-z-Zainiyyah ala Manzhumati-r-Rahbiyyah yang mengulas hukum waris, Faidul Mannan fi Wajibati Hamil-l-Qur’an, al-‘Ulumu-l-Wahbiyyah fi Manzilati-l-Qurbiyyah dan beberapa karya lainnya.

Syekh Zainuddin yang sering menerima kunjungan jamaah haji dan para santri asal Indonesia ini wafat pada tahun 2005.

Wallahu A’lam Bisshawab.

Referensi:
1. Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVII: Akar Pembaharuan Islam Indonesia (Jakarta: Kencana, 2012).

2. Amirul Ulum, Ulama-Ulama Aswaja Nusantara yang Berpengaruh Di Negeri Hijaz (Yogyakarta: Pustaka Musi, 2015)

3. Ahmad Ginandjar Sya’ban, Mahakarya Islam Nusantara: Kitab, Naskah, Manuskrip dan Korespondensi Ulama Nusantara (Jakarta: Pustaka Compas, 2017).

3. Abdurrahman Mas’ud, Intelektual Pesantren: Perhelatan Agama dan Tradisi (Yogyakarta: LKiS, 2004).

4. Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat: Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1995)


*Kajian dhuhur di Mushalla Baitul Irsyad, Senin, 17 Ramadan 1438 H/12 Juni 2017
     ____________________________

Rijal Mumazziq Zionis (Ketua PC LTN Surabaya)


Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Para Ulama Nusantara di Haramain (Abad XIX-XX)"

  1. maaf gus yg betul itu Syeikh Zainuddin Bawean atau Syeikh Zaini Bawean?
    karena guru saya Alm. KH. Muhammad Muhadjirin Amsar Ad-Daary tulis di manaqib beliau, Syeikh Zaini Bawean. Dan Syeikh Zaini adalah salah satu guru yg paling berpengaruh dlm pemikiran dan keilmuan beliau selain Syeikh Yaasin
    makanya ketima di sini disebut Syeikh Zainuddin bawean sy bertanya-tanya.
    apa jangan-jangan laen tokoh ya gus?

    ReplyDelete

close