Kiai Urip Urup



Sesudah nyantri hampir 25 tahun dan hanya diajari ngaji dan ngaji melulu, Sang Kiai berkata kepadanya, "Sudah. Sekarang kamu pulang ke desamu dan bikin pesantren!"

Lelaki ndeso itu kaget dan berkata: "lho! bikin pesantren? Saya tidak bisa apa-apa, Kiai" katanya. "Bikin pesantren itu kan perlu ilmu agama mumpuni, perlu modal, metode dan kualitas iman takwa yang prima".

"Pokoknya pulang saja! Bikin pesantren!" Perintah sang kiai.

Lelaki ndeso itu pulang, dan tidak melakukan perintah Kiai untuk membikin pesantren. Ia hanya bengong di rumah yang buruk beralaskan tanah, kerjaan harian dihabiskan di sawah dan kebun.

Setahun kemudian, ia memperoleh warisan hampir 10 juta rupiah. Ia habiskan dalam waktu beberapa hari. Padahal dirumahnya tiada perubahan berarti, semisal membangun rumah dengan megah. Masyarakat desa pun bingung, untuk apa saja duit warisan itu?

Ternyata, ada seseorang yang sedang pailit besar, dan lelaki ndeso nan lugu itu memberikan seluruh uang warisannya untuk menolong Pak Pailit, sedangkan ia sendiri tetap melarat.

Pak Pailit inilah yang pertama-tama melihat lelaki ndeso itu memiliki watak layaknya kiai. Ia pun berkata kepada setiap anak muda yang dijumpainya, "Bergurulah kepada Kang ndeso".
Tak ayal, banyak pemuda berdatangan untuk berguru atau "nyantri" kepada lelaki ndeso.

Lelaki ndeso itu kelabakan seraya mengucap:" Saya bukan Kiai, saya tidak bisa apa-apa". Tapi pemuda-pemuda itu tetap mantap nyantri dan ikut padanya. Akhirnya, lelaki ndeso itu mengalah dan berkata, "Ikuti saya ketika kerja disawah, dikebun, memperbaiki jembatan, jalan, bikin usaha (enterpreneur), tingkatkan ketrampilan namun tetap shalat berjamaah!"

Dalam waktu tak lebih dari tiga tahun, dusun yang ditempati lelaki ndeso itu berkembang makmur. Nge-baldah thayyibah, nge-qaryah thayyibah. Para pemuda yang nyantri tak pernah masuk kelas sekolah. Sebab "kelas" mereka adalah sawah, kebun, desa, dan di situlah lelaki ndeso yang menjadi Kiai Urip Urup itu memberikan "pelajaran", meskipun rumah pribadinya masih tetap beralaskan tanah. Ia menjadi hidup (urip) dan menyala (urup) di tengah masyarakatnya. (@mi)

Judul asli: Kiai Jembatan
Sumber buku: Secangkir Kopi Jon Pakir
Karya: Cak Nun (Emha Ainun Najib)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kiai Urip Urup"

Post a Comment

close