Kesederhanaan Syeikh Yasin Bin Isa Al-Fadani


Oleh: KH. Imam Ghazali Said

Ketika i'tikaf di Masjid al-Haram, saya teringat seorang ahli hadis asal Padang Sumbar: Syeikh Yasin bin Isa al-Padani. Ini karena pertemuan saya dengan beliau terjadi di Mekah pd 1986. Nama al-Padani sudah saya kenal melalui beberapa risalah pendek yg beliau tulis tentang sanad beberapa kitab. Dari risalah itu saya membayangkan bahwa beliau orang alim nusantara yang tinggal di Mekah. 

Dalam suatu kesempatan, saya diajak teman santri mukim di Mekah untuk sowan ke rumah beliau di kawasan Syi'ib Amir. Singkat kisah, saya sudah di dekat rumah beliau. Tapi saya belum tahu mana rumah beliau. Di baqqolah Jawa ada seseorang berkaos oblong sedang membeli air. Saya mendekat dan bertanya, "mohon maaf, mana rumah Syeikh Yasin al-Padani ?"Tanyaku. "Oh, ayo ikut saya, nanti akan sampai ke rumah beliau," jawabnya. Saya ikuti dia, ternyata saya ke rumah panggung sederhana. Dengan ramah orang itu bilang: "silahkan duduk !, kemudian orang itu masuk kamar, kemudian keluar menyuguhi teh dan makanan kecil kepada saya. Dalam hati saya bertanya, mana Syeikh Yasin ? Saya menduga orang itu khadim (pembantu) Syeikh Yasin.

Setelah ngobrol ke sana kemari dalam bahasa Arab campur Indonesia, saya bertanya, "apa Syeikh Yasin ada ?" Ia tersenyum, " Saya Yasin bin Isa al-Padani", jawabnya dengan penuh ramah. Sungguh saya malu, atas dugaan dan prilaku saya di hadapan orang alim sekelas beliau. Dari pertemuan itu, akhirnya saya ikut mengaji Sunan Abi Dawud. Ternyata santri beliau adalah para penuntut ilmu dari berbagai negara; yang saya tahu saat itu, dari Libanon, Syiria, Mesir, India, Pakistan. Sudan, Ethopia dll.

Pada tahun 1988 saya sowan lagi, mengantar KH Abd Muiz Basuki. Saat itu, ada beberapa kiai sedang membaca kitab Shahih Bukhari di hadapan beliau. Diantaranya -tidak salah-adalah KH Badri Masduqi Kraksaan Probolinggo. Kemudian Syeikh Yasin memberi ijazah sanad kepada KH Badri. Karena proses keluarnya ijazah "super cepat", maka saya mohon kepada Syeikh Yasin untuk diuji, kemudian jika lulus saya mendapatkan ijazah sanad. Dengan tegas beliau menyatakan: " Untuk kamu tidak bisa cepat", sebab kamu belum jadi kiai. Kamu nanti " Bisa Menjadi Jubir Para Kiai Indonesia". Umur kamu masih cukup mendalami ilmu sebaik mungkin". Itu petuah Syeikh Yasin, yang sepanjang hidup sulit saya lupakan. Semoga Allah mengampuni kesalahan dan menjadikan ilmu yang ditularkan menjadi amal salih yang terus mengalir sampai akhir masa.

 Wallahu A'lam
______________




KH. Imam Ghazali Said

Pengasuh Ponpes Annur Wonocolo Surabaya

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kesederhanaan Syeikh Yasin Bin Isa Al-Fadani"

Post a Comment

close