Jawa di Mata Duta Besar Howard Jones

Oleh: Djoko Pitono Hadiputro*
Bagi sebagian kalangan, termasuk orang-orang Jawa, membicarakan sesuatu yang terkait Jawa sekarang ini mungkin sering mengecilkan hati. Secara terselubung atau terang-terangan, manusia Jawa disebut makin terpuruk. Para pemimpinnya korup, peradaban Jawa pun merosot. Apa yang bisa dibanggakan oleh suku mayoritas di Indonesia ini? Sebuah suku bangsa yang menjadi kunci eksisteni NKRI ke depan? 
Bagi Anda yang mungkin sedang gundah, bolehlah menghibur diri antara lain berusaha lebih mengenal Howard Palfrey Jones (1899-1973). Ia adalah Dutabesar Amerika Serikat untuk Indonesia dari 1958 hingga 1965. Tetapi sebenarnya ia adalah figur yang "serba bisa". Waktu hidupnya dihabiskan sebagai tentara, wartawan, profesor, pegawai negeri, diplomat karir, dan peneliti.
Dari tulisan-tulisan diketahui, Howard Jones ternyata telah lama mengenal negeri ini jauh sebelum ia menjadi diplomat di Indonesia. Menurut Jones dalam bukunya, Indonesia: The Possible Dream, perkenalan pertamanya dengan Indonesia terjadi secara kebetulan saat ia masih di sekolah menengah di Milwauke, negara bagian Wisconsin. Saat itu kelasnya sedang belajar tentang Perang Salib dan gurunya menyarankan bila para siswa ingin melihat pakaian berlapis baja yang digunakan para tentara Salib, maka disarankan berkunjung ke Museum Milwauke. Di tempat itulah ia melihat berbagai macam senjata tajam, di antaranya adalah apa yang kemudian diketahuinya bernama keris. Keris itu dikatakannya sangat indah, dengan sarung berlapis emas dan gagang berukir. Di bawahnya tertulis, "Javanese Kris, 14th century".
Dari sini Jones kemudian banyak mengungkapkan kekaguman dan pujiannya kepada masyarakat Jawa berikut lingkungan kehidupannya ia nilai begitu indah. Buku yang juga merupakan catatan pengalamannya selama di Indonesia tersebut memang penuh dengan masalah-masalah sejarah dan politik. Buku itu diawali dengan pengantar untuk memahami Indonesia, tentang legenda-legenda mengenai Jawa, tentang Jawa di zaman batu dan ramalan-ramalan Joyoboyo, serta awal tugas Jones sebagai pejabat bidang bantuan di Indonesia dan sedikit tentang Bung Karno.
Dari Bab II hingga Bab IV penuh dengan masalah-masalah sejarah dan politik, sejak awal tugasnya sebagai Dubes AS, saat dilantik Menlu John Foster Dulles pada 21 Februari 1958 hingga ia ditarik ke Washington pada 1965, dan berbagai peristiwa naiknya Jenderal Soeharto memimpin Indonesia.
Tentang Pulau Jawa, manusia dan budaya Jawa, misalnya. Jones menulis, nenek moyang orang-orang Jawa sudah ada pada masa pra-sejarah. Ditemukannya vosil manusia Jawa, Phithecanthropus erectus, di Lembah Bengawan Solo (Trinil) pada 1890, menimbulkan kesimpulan bahwa Jawa adalah tempat asal mula manusia sekarang ini, itu berarti tempat Taman Surga (Garden of Eden).

"Even if that is not true, it should be; for it would be difficult to find anywhere in the world a paradise surpassing this land of lush beauty, literally a garden. Although modern scholars tend to place the origin of farther north and west, the idyllic quality of the Indonesian archipelago lends itself appropriately to the legend of Genesis."

Jones juga menulis, masyarakat Indonesia telah mengembangkan budaya khasnya sendiri jauh sebelum ada pengaruh dari India dan China. Saat pengaruh itu mulai datang, mereka telah mengembangkan cara bercocok tanam dengan sistem irigasi yang canggih, trampil dalam mengolah perungu dan besi dan pelaut yang baik. Mereka juga memiliki teater sendiri (wayang), mengembangkan musik dalam bentuk gamelan, dan membuat kain batik dengan desain-desain dan bentuk-bentuk rumit lewat proses yang rumit. Mereka adalah orang-orang mencintai seni, yang rumahnya dihiasi dengan ukir-ukiran yang rumit.

Ia pun mengingatkan, di saat nenek moyang manusia Jawa menaklukkan fauna dan belantara di Pulau Jawa, mereka juga pelaut hebat. Mereka berlayar hingga ke perairan Jepang dan beremigrasi menyeberang Lautan Hindia hingga ke Madagaskar.
Saat itu, tulis Jones, seluruh daratan Eropa masih dalam budaya neolitic. Mengutip penggambaran Kapten Cook, "Britain was still inhabited by painted savages."

Ada banyak cerita lain yang dilukiskan Howard Jones dengan gaya menarik, tentang dukun, slametan, dan sebagainya, hampir semuanya berdasar pengalamannya sendiri. Ia antara lain menceritakan acara slametan saat peletakan batu pertama pembangunan Kedubes AS di Jakarta. Diceritakan juga tentang William E. Palmer, wakil perusahaan film AS, yang diganggu makhluk halus saat membangun kolam renang di villanya di Puncak. Begitu selesai dibangun dan diisi air, kolam itu ternyata kering hanya dalam beberapa hari, padahal tidak bocor. Setelah disarankan pembantunya untuk mengatakan slametan, kolam itu tak mengalami masalah.
Jones juga tampak keheranan saat melukiskan kemampuan seorang dukun, yang mampu menyembuhkan istri seorang diplomat asing di Jakarta. Keluarga dan dokter sudah pasrah, tetapi kemudian istri seorang diplomat terkenal Indonesia memberitahu keluarga diplomat asing itu tentang kemampuan ayahnya dalam menyembuhkan berbagai penyakit.
Istri diplomat Indonesia itu pun kemudian menyurati ayahnya yang tinggal di Jawa Tengah untuk datang datang ke Jakarta. Tetapi sang ayah tak bisa datang dan anaknya diminta untuk memberitahu saja penyakit yang diderita isteri dubes asing itu. Tiga hari kemudian, wanita yang sakit itu -- yang tinggal kulit dan tulang -- mulai merasa sehat dan mau makan. Malam itu juga ia ikut makan malam bersama keluarganya yang terheran-heran. Seminggu kemudian, wanita itu pun sembuh total.
Beberapa bulan kemudian, Dubes Jones bertemu dan berbincang-bincang dengan "orang sakti" ayah dari istri diplomat Indonesia tersebut. Jones bertanya bagaimana ia menyembuhkan istri diplomat asing itu. "Saya tidak menyembuhkan," kata orang tua itu. "Tuhanlah yang menyembuhkan, saya hanya berdoa."
Howard Jones memang diplomat yang sangat mengenal Jawa. Mungkin itulah yang menyebabkan dia juga menjadi sahabat baik dengan Bung Karno. 

*Editor dan penulis sejumlah buku. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Jawa di Mata Duta Besar Howard Jones"

Post a Comment

close