Berkenalan dengan As-Shirat al-Mustaqim: Kitab Fiqh Generasi Awal di Nusantara



Oleh: Rijal Mumazziq Zionis (Ketua PC LTN NU Surabaya)

Jika pengokohan Islam di Jawa diawali dengan penguatan nilai nilai Islam melalui ajaran tasawuf, di Sumatera lebih kental nuansa fiqh-nya. Syekh Nuruddin Ar-Raniri, mutfi Aceh era Sultan Iskandar Tsani memproteksi rakyat dari ajaran tasawuf falsafi-nya Syekh Hamzah Fansuri dan Syekh Syamsudin Sumatrani, yang sebelumnya mendapatkan panggung di era Sultan Iskandar Muda. Pengokohan aspek fiqh Madzhab Syafi'i ini lebih menguat tatkala ulama kelahiran India ini menyusun kitab fiqh, As-Shirath al-Mustaqim.

Inilah kitab yang ditengarai sebagai karya komprehensif pertama yang ditulis ulama (yang ada) di Nusantara (meskipun Arraniri lahir dan wafat di India) yang membahas fiqh Madzhab Syafi'i. Karya setebal 347 halaman ini ditulis menggunakan bahasa Melayu klasik, beraksara Arab-Melayu, dan diulas dengan cermat dan taktis untuk pemula non Arab atau dalam bahasa penulis "....liyantafi'a bihi man la yafhamu bilisanil Arabi".

Kitab ini merupakan hasil perasan dari Minhajut Thalibin-nya Imam Nawawi, Minhajut Thullab-nya Imam Zakariyya al-Anshari, Hidayatul Muhtaj Ibnu Hajar, kitab Anwar-nya Imam Ardabili, serta kitab 'Umdatus Salik, sebagaimana keterangan dalam pengantar kitab ini.

Yang luar biasa adalah upaya Syaikh Arraniri yang lahir di India, menjadi mufti di Aceh, lalu kembali ke tanah kelahirannya dalam membumikan Madzhab Syafi'i di Nusantara. Beliau menjadi "koki intelektual" yang meracik pelbagai kitab berbahasa Arab untuk disajikan menggunakan bahasa Melayu bagi orang-orang awam. Syaikh Nuruddin diperkirakan lahir sekitar akhir abad ke-16 di kota Ranir, India dan wafat pada 21 September 1658. Pada tahun 1637, ia datang ke Aceh, dan kemudian menjadi penasehat kesultanan di sana hingga tahun 1644. Ar-Raniri, yang namanya diabadikan menjadi perguruan tinggi di Banda Aceh, juga terkenal karena menulis banyak karya. Total ada 30 kitab yang dia tulis. Adapun yang masyhur adalah As-Sirath Al-Mustaqim dan Bustan As-Salatin.

Bapak Ideologis Madzhab Syafi'i di Nusantara

Syaikh Arraniri bisa dikatakan menjadi bapak ideologis Madzhab Syafi'i di Nusantara karena murid-muridnya menjadi pengembang madzhab ini dan memberikan sumbangsih dalam pembumian madzhab ini. Misalnya, Syaikh Abdurrauf Assinkili memberi komentar atas kitab Sirath al-Mustaqim melalui karyanya, Mir'atut Thullab, yang kabarnya kemudian dikembangkan lagi oleh ulama top asal Banjar, Syaikh Arsyad al-Banjari, melalui kitab Sabilul Muhtadin. Bahkan sampai saat inipun, kitab Sabilul Muhtadin tetap menyertakan Sirath al-Mustaqim di halaman tengah.

Ditinjau dari segi teknis, pola penulisan aksara Pegon menggunakan bahasa Melayu ini sedikit berbeda dengan yang dipakai di pesantren. Misalnya di kitab ini, "bu-ku" ditulis menggunakan huruf (ba') dan (kaf), tanpa ada (waw) sama sekali. "Ma-ka" ditulis (mim) dan (kaf), bukan mim-alif-kaf-alif. Juga banyak sekali yang berbeda dengan pola penulisan aksara pegon seperti yang lazim digunakan di pesantren.

Bersama dengan adik-adik mahasiswa IAIN Jember, di akhir 2015 silam, saya mengalihaksarakan isi kitab ini menjadi latin. Agak rumit, memang, karena adik-adik mahasiswa PGMI ini mayoritas berasal dari pendidikan non-pesantren sehingga mereka harus belajar sejak nol mengenai pola penulisan Arab-Pegon maupun Arab-Melayu. Tidak masalah, mereka dengan sabar dan tekun dibimbing sahabat-sahabat mereka yang sudah menguasai teknis penulisan aksara yang lahir dari inovasi ulama kita ini.

Perbedaan ini memang dimaklumi, sebab Sirath al-Mustaqim ditulis pada pertengahan tahun 1600-an alias beberapa abad silam. Lagi pula, kitab ini tampaknya sudah lama tidak beredar di Nusantara, meski pada awal 1700-an dan pertengan 1800-an masih digunakan di beberapa kesultanan sebagai referensi para qadli.

Di antara keunikan kitab ini adalah, meski ditulis oleh ulama India, disebarkan di Nusantara pada eranya, namun cetakan terakhir kitab ini justru diterbitkan oleh penerbit Musthafa Babi el-Halabi, Mesir, pada 1356 H/1937 M. Ini membuktikan jika pada dasawarsa 1930-an karya berbahasa Melayu ini juga banyak dikaji di kawasan Timur Tengah. Yang lebih unik, Syaikh Arraniri menggunakan frasa "sembahyang" untuk menyebut "shalat". Sebuah strategi bahasa yang cukup cerdas sebagaimana dilakukan Walisongo. :-)

Wallahu A'lam Bisshawab
_________________
Rijal Mumazziq Z. (Ketua PC LTN NU Kota Surabaya)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Berkenalan dengan As-Shirat al-Mustaqim: Kitab Fiqh Generasi Awal di Nusantara"

Post a Comment

close