Membaca Sejarah Lama; Pelajaran Penting Dari Runtuhnya Majapahit

Oleh: Abdurrahman Wahid

Penyerbuan para Wali Sembilan (walisongo) atas ibu kota Majapahit adalah kejadian yang sangat menarik untuk diketahui. Karena banyak pelajaran yang dapat ditarik dari peristiwa tersebut. Ia bermula dari serbuan Kusuma Wardani yang memimpin Kadipaten Kediri, salah satu putra Brawijaya V, atas prajurit Muslim di Troloyo –sekitar satu kilometer dari Trowulan. Kusuma Wardani, menurut  spekulasi Penulis, marah atas proses  islamisasi  Kraton Majapahit. Karena kemarahan tersebut, ia memutuskan untuk menyerbu kraton itu dan berhasil mengusir Prabu Brawijaya V (ayahnya sendiri.red) yang, selanjutnya, melarikan diri ke Gunung Lawu –sebelah barat Magetan sekarang, dan di sana dikenal dengan sebutan Sunan Lawu.

Sehabis menyerbu Kraton Majapahit, pasukan-pasukan Kusuma Wardani menyerbu pertahanan kaum Muslimin di Troloyo, dekat Trowulan. Dalam pertempuran sengit yang terjadi, berguguranlah Syaikh Abdul Qohar (Maling Cluring), Syaikh Usman Ngudung, dan Tan Kim Han, salah seorang duta besar China yang beragama Islam dan menggunakan nama Arab Syaikh Abdul Qadir Jaelani. Di tempat itulah dikuburkan orang-orang Hindu-Budha, setelah Kerajaan Majapahit hancur total.

Pelajaran berharga dari serangan Kusuma Wardani itu adalah pentingnya arti kerukunan umat beragama antara Islam dan Hindu-Budha yang terganggu sejak Syaikh Jamaluddin Husein berpindah dari Bojonegoro ke Majapahit. Di tempat  baru itu. Ia membeli tanah-tanah yang dirampas dari tangan para penunggak hutang, seperti yang dilakukan BPPN kita sekarang, yang merampas perusahaan-perusahaan milik para konglomerat yang tidak mau mengembalikan kredit mereka ke berbagai bank. Dan, Sayyid Jamaluddin Husein mengembalikan tanah-tanah itu kepada para pemilik jika mereka memeluk agama Islam.

Gugurnya para pemimpin tentara Isalam di Troloyo itu, diikuti oleh  penguasaan Kusuma Wardani atas Kraton Majapahit yang lebih mempertahankan agama Hindu-Budha, hingga mengakibatkan reaksi tajam. Para wali Sembilan, yang sementara itu telah berhasil mendirikan Kesultanan Demak, memutuskan untuk menggunakan kekerasan dan membentuk pasukan rakyat, yang berjumlah sekitar 350 ribu jiwa,. Untuk memimpin pasukan itu, mereka menunjuk Sayyid Abdurrahman dari Ngroto, di sebelah timur Semarang (dahulu termasuk Kabupaten Demak, sekarang wilayah Grobogan, Purwodadi). Panglima ini bergelar Ki Ageng Ganjur –sebuah alat musik pukulan di bawah gong dalam perangkat gamelan wayang –sebagai alat komunikasi dengan pasukan-pasukannya.

Sayyid Abdurrahman Ngroto dipilih sebagai panglima karena ketrampilan teknologisnya, tepat seperti lulusan ATKAD, semisal Try Sutrisno. Dilakukannya penggunaaan alat musik pukul itu sebagai alat komunikasi dengan pasukannya. Juga, ia dipilih menjadi panglima pasukan-pasukan penyerbu Majapahit, karena ia harus menyeberangkan semua prajurit  rakyat sebesar itu (350 ribu) dengan melintasi dua buah sungai; Bengawan Solo dan Brantas. Kisah penyeberangan itu sendiri, menurut cerita tutur, sangat menarik untuk didengar karena di dalamnya tersembur kegigihan anak manusia melawan rintangan alam yang dihadapi mereka.

Kisah penyeberangan menurut cerita tutur itu membawakan pelajaran kedua bagi kejadian sejarah, yaitu bagaimana manusia harus mengatasi rintangan alam yang sangat berat melalui penerapan teknologi tepat dan pengorganisasian diri yang sepadan dengan kebutuhan. Alam harus ditundukkan dengan teknologi dan pengorganisasian, dan prinsip ini harus dipegang teguh oleh anak manusia di segala zaman.

Keberhasilan para wali Sembilan dan panglima mereka itu –dalam menempuh cara tersebut untuk mewujudkan keinginan politik mereka –menunjukkan derajat kemasyarakatan yang tinggi, yang ada waktu itu. Keputusan untuk membumihanguskan Kraton Majapahit, setelah pasukan-pasukan Islam mengalahkan Prabu Brawijaya VI/Kusuma Wardani (posisi dan gelar yang digunakan Adipati Kediri setelah mengalahkan tentara Islam di Troloyo), merupakan pelajaran penting ketiga yang diambil dari rangkaian peristiwa di atas. Pelajaran itu adalah:”jika kau kalahkan dan kuasai lawan, hancurkan kraton mereka”. Ini adalah kerugian sangat besar bagi sejarah, sebab catatan-catatan sejarah menjadi musnah dan kita kehilangan data tertulis darinya.

Kesultanan Demak telah melakukan hal itu, dan kita banyak kehilangan data sejarah yang tertulis, kehilangan apa yang harus dikompensasikan oleh cerita-cerita tutur yang terkadang sangat meragukan keautentikannya. Selain itu, menurut  Dr. Sudjatmoko, letak geografis kerajaan-kerajaan Indonesia yang terdapat di daerah khatulistiwa/tropis, juga ikut membuat kerusakan-kerusakan besar bagi begitu  banyak peninggalan sejarah kita. Menurutnya, letak geografis budaya Afrika maupun budaya Inka dan Maya di Amerika Tengah bersifat ahistoris.

Pelajaran penting lain yang dapat ditarik dari peristiwa itu adalah pentingnya arti toleransi antar- agama, bagi bangsa-bangsa atau suku-suku bangsa yang ada di kawasan ini. Pelajaran ini dapat dimengerti dengan tepat oleh para pendiri Republik kita, dengan kearifan untuk menghapuskan Piagam Jakarta di dalam pembukaan UUD 1945. Sebuah sikap yang tidak bertentangan dengan fiqh (hukum) Islam, karena kalau keputusan penghapusan itu yang diambil oleh para pendamping  Islam yang tergabung dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dari berbagai aliran, ternyata tidak ditentang  oleh para pejuang yang tegar dari masa itu, seperti KH. Hasyim Asyari Tebuireng dan KH. M. Bisri Sansuri, Denanyar. (@mi)

Jakarta, 7 Februari 2002.
_______________________
Sumber buku: Membaca Sejarah Nusantara, oleh Gus Dur
(tulisan ini diposting Ahmad Karomi dalam rangka #HaulSunanAmpel ke 568)


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Membaca Sejarah Lama; Pelajaran Penting Dari Runtuhnya Majapahit"

Post a Comment

close