Melacak Masa Depan Islam Moderat di Perguruan Tinggi


Oleh: Winarto Eka Wahyudi

Terdapat sebuah laporan penelitian yang cukup mencengangkan pada tahun 2012, bahwa ditemukan sebanyak 86% mahasiswa dari lima kampus tenar di Jawa yang tidak lagi melegitimasi pancasila sebagai dasar dan falsafah bernegara. Temuan yang dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan diamini oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini, merupakan tamparan telak bagi perguruan tinggi yang selama ini dipercaya sebagai lokomotif penggerak masa depan bangsa.

Lunturnya semangat kebangsaan di kampus tentu sangat mengancam nasib Indonesia sebagai bangsa yang multikultural. Jika sendi-sendi keberagaman yang menjadi aset nasional telah roboh, bukan hal yang mustahil terjadi disintegrasi dan konflik horizontal antar elemen bangsa.

Salah satu organisasi yang selama ini dikenal “konsisten” dalam melakukan penyerangan-penyerangan pemikiran terhadap isu demokrasi, Hak Asasi Manusia, Pancasila dan Nasionalisme adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Organisasi yang menjadikan politik sebagai jalan dakwahnya ini, lazim melakukan kritik terhadap pemerintahan yang jamak mereka istilahkan sebagai rezim thoghut dan kafir dengan alasan tidak mengimplementasikan hukum-hukum Allah di dalam regulasi pemerintahan, sekaligus menawarkan solusi dengan mempropagandakan apa yang mereka sebut sebagai Khilafah Islamiyah.

Di satu sisi, organisasi seperti ini dilegitimasi oleh demokrasi karena terkategorikan sebagai kebebasan berserikat dan menyatakan pendapat. Namun di sisi lain, eksistensinya yang menggangu semangat keberagaman dan ujaran kebencian yang sering di lontarkan kepada pemerintah, tak bisa dilegitimasi sebagai bagian dari hak asasi, karena yang mereka lakukan bukan manifestasi dari kritisisme, namun sudah masuk pada ranah penghinaan, provokasi dan penghasutan untuk menolak pemerintahan yang sah. Inilah alasan kenapa organisasi ini ditolak oleh ormas islam mainstream di Indonesia (baca: NU dan Muhammadiyah). Karena ini pula, pemerintah dalam hal ini diwakili oleh MENKOPOLHUKAM merasa perlu untuk membubarkannya.

Di kampus, underbow organisasi ini banyak menarik animo mahasiswa yang awam dalam hal keagamaan namun semangat belajar islamnya tinggi. Hal ini dikarenakan organisasi ini banyak menjadikan masjid dan kegiatan-kegiatan islam sebagai media propagandanya. Bagi mereka yang tidak menyadari, akan terseret pada kubangan pemikiran yang sempit dan peyoratif terhadap segala hal yang mereka anggap tak sepaham dengan kelompoknya. Pada gilirannya, dengan mengatasnamakan perjuangan Islam, mereka sekaligus melakukan agitasi terhadap status quo kebhinekaan. 

Jika pemikiran-pemikiran ini tidak segera dipangkas, bukan hal yang mustahil kampus akan menjadi sarang idelogi pengembangbiakan gerakan-gerakan “islam” yang alergi terhadap moderasi keumatan dan kebudayaan.

Disinilah peran organisasi-organisasi seperti IPNU, PMII, KMNU, IMM dan beberapa organisasi sayap NU dan Muhammadiyah untuk melakukan counter pemikiran terhadap fenomena aktivisme di perguruan tinggi yang meresahkan spirit kebhenikaan. Mengapa peran organisasi di atas begitu penting? karena selama ini NU dan Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi Islam pengawal paradigma keislaman yang berakar dari perspektif kebangsaan yang kuat.

Masa depan islam moderat –dalam konteks perguruan tinggi- jika melihat realita demikian, sudah barang tentu berada di pundak para kader-kader NU dan Muhammdiyah melalui organisasi-organisasi kemahasiswaannya. Bagi para kader-kadernya, perlu dilakukan gerakan bersama untuk menolak dan meluruskan ideologi-ideologi subversif di kampus melalui penggalakan kajian-kajian dan tradisi ilmiah yang lain. selain itu, diperlukan juga melakukan revitalisasi pemikiran KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan selaku ideolog kedua organisasi tersebut. Upaya ini dalam rangka untuk mengambil inspirasi intelektual dan sosial agar barakah akademik kedua tokoh besar tersebut merembes dalam benak dan pikiran para aktivis kemahasiswaan saat ini. Semoga.

_________________


Winarto Eka Wahyudi
Pengurus Wilayah LTN NU Jawa Timur, Dosen Universitas Islam Lamongan

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Melacak Masa Depan Islam Moderat di Perguruan Tinggi"

Post a Comment

close