Kiat Mengajak Anak Berpuasa


Oleh: Ahmad Karomi

Memaksa adalah cara kuno, tapi terkadang menjadi salah satu metode alternatif ces-pleng untuk mendidik seorang anak yang menginjak usia tujuh tahun. Tatkala si anak tidak patuh dan abai terhadap kewajiban yang dibebankan kepada dirinya, seyogyanya orang tua menegur anak, sesekali perlu bersikap keras namun lembut kepadanya.

Implementasi laku puasa pada anak, tolok ukurnya dari seberapa efektif dan kreatif orang tua mengajaknya. Ibarat merangkul tanpa memukul, mengajak tanpa menggasak. Menurut Psikolog Anak, Yuliani Nurani Sujiono, usia emas atau lazim disebut golden age ada pada rentang usia satu sampai enam tahun, selanjutnya di usia tujuh tahun memasuki pengenalan tanggung jawab, peningkatan sisi religiusitasnya, meskipun masih tambal-sulam.

Adalah hal yang patut disayangkan bilamana seorang anak di usia emas yang masih perlu bimbingan dan bekal dari orang tua, tidak dibekali dan dididik norma agama, malah dihujani kata paksaan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: " Jaman saiki wong tuo iku koyok kebo nyusu gudel" (Jaman sekarang, orang tua seperti halnya kerbau yang nyusu anaknya). Maksudnya, orang tua tidak berhak memaksa keinginan anaknya, haruslah mendengarkan suara/ pendapat anaknya. Dari pendapat itulah ruang komunikasi terbuka.

Tips mengajari anak untuk melakukan puasa berbeda-beda caranya, seiring perkembangan otak dan mental mereka. Oleh karena itu, ulama-ulama dulu, banyak menulis kitab terkait anak, semisal washoya, akhlaq lil banin, akhlaq lil banat, dll. Tentunya,  segmentasi kitab-kitab kecil itu untuk kalangan anak. Sebab prospek ke depan adalah mencetak anak-anak yang sholih-sholihah. Namun realitanya, banyak pula orang dewasa ikut ngaji. Sehingga kitab-kitab itu menjadi semacam rujukan hubungan orang tua-anak, agar saling memahami satu sama lain.

Mendidik buah hati untuk melakukan ibadah fardhu seperti puasa, adalah tugas besar bagi masing-masing orang tua. Unsur paksaan seakan merubah mindset seorang anak pada orang tua yang dikenal penuh kasih sayang menjadi agen "Pemaksa". Alangkah lebih efisien jikalau paksaan itu dibalut dengan "ajakan" yang menyenangkan. Proses yang mesti dijalani adalah:  1) memberikan contoh yang baik untuk anak dengan melakukan perbuatan baik. Jika orang tua puasa, maka anak akan mudah diajak untuk ikut puasa meskipun hanya "poso sapi/mari mangan diusapi" atau poso bedug yang ditandai masuknya waktu duhur; 2) mengajak bergabung ketika berbuka dan sahur, sehingga anak merasa menjadi bagian "orang dewasa yang berpuasa"; 3) selalu apresiatif akan jerih payah anak tatkala puasa, meskipun hanya poso sapi. Tujuannya untuk membangun kepercayaan diri anak, serta memancing jiwa militansi dalam merampungkan laku puasa yang dijalaninya.

Dengan demikian, "paksaan" yang dimodifikasi sebagai "ajakan" akan membentuk ruang dialog antara orang tua-anak, dan tanpa ia sadari telah membentuk sikap tanggung jawab akan perbuatan sendiri.

wallahu a'lam

___________________


Ahmad Karomi
Sekretaris PW LTN NU Jatim

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kiat Mengajak Anak Berpuasa"

Post a Comment

close