Kesibukan, Sikap dan Perilaku Kita

Oleh: KH. Ahmad Mustofa Bisri

Barangkali kita, khususnya yang tinggal di kota, memang terlalu sibuk. Urusan kita untuk kepentingan kita sendiri begitu banyak, sehingga jatah waktu yang 24 jam rasanya tidak cukup.
Coba hitung sendiri; berapa jam untuk bekerja mencari nafkah? Berapa untuk olahraga termasuk senam pagi agar kondisi tubuh fit? Berapa untuk rekreasi termasuk “rekreasi dinamis” untuk menyegarkan kembali pikiran yang stress? Berapa untuk kerja-kerja sosial seperti arisan dan sebagainya? Berapa untuk kegiatan-kegiatan organisasi ini-itu? Berapa untuk istirahat dan tidur? Lalu membaca Koran/majalah, nonton tivi dan sebagainya dan seterusnya? Belum lagi jika dihitung “kegiatan” menunggu dalam kemacetan lalu lintas.

Jadi, umumnya kita memang tak cukup punya waktu untuk njlimeti persoalan yang tidak atau tidak segera tampak ada kaitannya langsung dengan kepentingan diri kita sendiri? Kiranya untuk persoalan-persoalan yang seperti itu, “partisipasi” kita cukuplah dengan meramaikan sambil lalu bersama media massa. Misalnya, dengan sedikit menyumbang pernyataan atau pendapat, sedikit usulan atau kalau perlu protes dan demonstrasi. Nanti persoalan-persoalan itu pun akan selesai dengan sendirinya.

Mereka yang mempunyai gairah, semangat dan kepedulian, yang besar terhadap agama pun, apabila terdorong  ghirah mereka untuk menanggapi suatu persoalan seringkali tidak sempat sekadar menengok tuntunan agama mereka sendiri itu mengenai bagaimana seharusnya menanggapi persoalan semacam itu yang menyangkut agama, kalaupun ada konsultasi sebelumnya paling banter yah kepada akal pikiran dan emosi atau itikad kelompok sendiri jarang yang sampai kepada Allah, untuk dan demi siapa mereka hidup dan beragama.

Ambil contoh persoalan-persoalan yang menyangkut ukhuwwah islamiyyah dan muamalah bainannas kalaupun merujuk misalnya kepada firman Allah atau Rasul-Nya, biasanya terlebih dahulu kita kenakan “kaca mata hitam putih” kita sendiri. Kita benci dulu kepada saudara kita, misalnya lalu kita mencari-cari dalil-dalil yang bisa mengaitkannya dengan hal yang tidak disukai Allah, dengan demikian akan mudah kita mengambil keputusan saudara kita itu dibenci Allah, karena kita perlu ganyang. Kita curiga dulu terhadap suatu kelompok, setelah itu mudah kita cari hujjah atau argumentasi membabat setiap gagasan, atau bahkan sekadar pendapat dari kelompok tersebut.

Ini jauh lebih mudah. Tidak banyak menyita waktu dan energi, ketimbang harus capek-capek mengatur diri agar obyektif, mengkaji masalah secara jernih; dan dengan lurus merujuk firman Allah dan atau sabda RasulNya.

Waba’du, Allah menyuruh kita kaum mukminin untuk menjauhi prasangka-prasangka mencari-cari kesalahan orang lain dan menggunjing sesama (Q.s. 49:12). Tetapi, mana kita punya waktu untuk lebih dari sekadar berprasangka dan mencari-cari kesalahan orang lain, kalau kita terlalu sibuk dengan diri kita dan kelompok sendiri? Biasanya dengan dalih menegakkan kebenaran atau menjaga kesucian agama, prasangka dan larangan-larangan yang sudah digariskan Tuhan pun lalu dianggap halal atau dilupakan. Padahal menegakkan kebenaran bagi kaum beriman pun ada cara dan rambu-rambunya. (Baca misalnya, Q.s.4:135, Q.s. 5:8). Atau kita juga punya cukup waktu atau –naudzu billah- kita terlalu angkuh dan merasa tidak perlu untuk mendengarkan firman Allah tentang sikap dan perilaku yang harus kita ambil dan jalani? Semoga Allah mengampuni kita. (@mi)

                                                                                                            3 Agustus 2006

Sumber buku: Mencari Bening Mata Air, Renungan A. Mustofa Bisri

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kesibukan, Sikap dan Perilaku Kita"

Post a Comment

close