Kemanusiaan Sebagai Watak Kepemimpinan Nabi Muhammad (2)


Oleh: KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)


Bahkan soal ibadat, Nabi Muhammad senantiasa menjaga agar umatnya tidak merasa terberati dan menganjurkan agar tidak memberatkan mereka.

Nabi yang suka-dan dalam rangka menganjurkan- menyikat gigi misalnya, memerlukan bersabda dengan ungkapan: Laulaa an asyaqqa 'alaa ummatii laamartuhum
bissiwaaki...( Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan memerintahkan mereka menyikat gigi…).

Salat malam kita ketahui merupakan ibadat rutin Nabi Muhammad di malam hari dan sangat dianjurkan. Mula- mula Nabi melakukannya di masjid, namun ketika banyak
orang mengikuti jejaknya, beberapa malam kemudian Nabi tidak keluar lagi melakukan salat malam ke masjid. Menurut hadist shahih, ini dikarenakan Nabi khawatir salat itu menjadi wajib dan akan memberatkan. Ketika Muadz, seorang Sahabat dekat Nabi, dilaporkan terlalu panjang membaca bacaan- bacaan salat menjadi imam, Nabi Muhammad ”memarahi”-nya. ”Di beIakangmu terdapat orangtua, orang lemah, dan
orang yang mempunyai keperluan,” sabda Nabi Muhammad memberi penjelasan.

Dan masih banyak lagi contoh-contoh yang lain yang dapat Anda baca di Sirah Nabi Muhammad.

Juga sabda Nabi Muhammad: Yassiruu walaa tu'assiruu (Buat mudahlah dan jangan mempersulit), lebih memperjelas betapa Nabi Muhammad SAW memang tidak suka memberati umatnya.

Nabi yang begitu tak tahan melihat penderitaan umatnya, yang begitu ingin umatnya selamat dan berbahagia, yang begitu ingin umatnya selamat dan berbahagia, yang begitu mengasihi dan menyayangi orang-orang yang beriman, anehkah bila selalu mencontohkan dan menganjurkan kebenaran, kebaikan, keadilan, dan seterusnya serta menjauhi dan melarang perbuatan-perbuatan yang merendahkan martabat kemanusiaan dan mencelakakan diri sendiri dan orang lain?

Ayat yang lain-yang ditujukan kepada Nabi-menegaskan: Fabimaa rahmatin minallahi lintalahum...”Maka dengan rahmat dari Allah, engkau pun lemah-lembut terhadap
mereka-umatmu". Sekiranya engkau keras dan berhati kasar: niscaya mereka akan lari dari padamu. Maka maafkanlah mereka, mohonkanlah bagi mereka, dan bermusyawarahlah
dengan mereka dalam urusan ini (urusan perjuangan dan menginginkan keselamatan dan kebahagiaan umatnya), sangat mengasihi dan menyayangi umatnya, lemah-lembut terhadap umatnya, memaafkan dan memohon ampun kesalahan umatnya, mau bermusyawarah dengan umatnya, dan bertawakal kepada Allah swt. Setelah bulat tekadnya. Bagaimana dengan para pewarisnya?

27 April 2006
(@mi)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kemanusiaan Sebagai Watak Kepemimpinan Nabi Muhammad (2)"

Post a Comment

close