Kemanusiaan Sebagai Watak Kepemimpinan Nabi Muhammad (1)





Oleh: KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)


Ketika Sayyidatina Aisyah r.a. ditanya tentang suaminya, Nabi Muhammad SAW, jawabnya sungguh cekak aos, ”Kaana khuluquhu Al-Quran.” (Pekertinya adalah Al-Quran). Benar benar cekak aos, singkat tapi cukup atau penuh makna.
Jawaban ini, selain menunjukkan tingkat kecerdasan Aisyah yang tinggi, juga membuktikan tingkat pemahaman yang luar biasa dari putri sahabat Abu Bakar itu terhadap Al-Quran dan pribadi Nabi Muhammad SAW. Maklum murid dan istri kinasih Nabi.

Kiranya jawaban singkat tersebut -dengan berputar-putar- dapat pula dijadikan kunci jawaban apabila ada yang mempertanyakan kenapa sekarang ini banyak umat Islam yang ”tidak mengenal” Nabinya dan sedikit sekali pemimpin Islam yang mewarisi atau mencontoh kepemimpinan Nabinya.

Menurut saya, ucapan Aisyah itu bisa diartikan -wallahu a'lam- bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan pengejawantahan Al-Quran. Maka orang-apalagi yang tidak menangi Nabi Muhammad SAW-sebenarnya tak akan dapat mengenal Nabi Muhammad SAW. Tanpa membaca dan memahami Al- Quran.

Semua anjuran, perintah, dan perilaku terpuji dalam Al-Quran seperti takwa, amal saleh, menegakkan kebenaran, memerangi kelaliman, membela kaum lemah, adil, berbudi, jujur, berkata benar, amar ma'ruf nahi munkar, dan seterusnya. Nabi Muhammad yang pertama-tama secara istiqomah melaksanakannya. Dan, semua larangan, pantangan, dan hal- hal buruk yang dikecam Al-Quran, seperti syirik, mengufuri nikmat, membunuh, mencuri, zina, kikir, dengki, tamak, serakah, berdusta, menghina sesama, dan hal-hal lain yang merendahkan martabat kemanusiaan. Nabi Muhammad-lah yang pertama-tama dan secara istiqomah menjauhinya.

Maka anehkah apabila kemudian sebagai pemimpin, Nabi Muhammad SAW begitu ditaati dengan kasih sayang- bukan karena terpaksa-oleh umatnya? Pemimpin yang menganjurkan dan mencontohkan pengamalan anjurannya: yang melarang dan mencontohkan menjauhi larangannya, tentu sangat mudah diikuti dan ditaati (Pada waktu perang Khandaq, misalnya, para sahabat, dalam keadaan yang sulit di bawah terik matahari, menggali parit atas perintah Nabi, dengan penuh semangat. Ini tentu juga disebabkan karena sang pemimpin tidak sekadar memerintah, melainkan ikut bahkan mengawali mencontohkan dan membantu pelaksanaan perintahnya itu. (Baca Sirat an-Nabi oleh Ibn Hisyam III, 231—5).

Watak kepemimpinan Nabi Muhammad SAW lebih tegas lagi ditandaskan dalam ayat-ayat Al-Quran yang-anehnya- dihafal luar kepala oleh hampir semua pemimpin, yang dianggap pemimpin maupun yang mengaku pemimpin umat. Yaitu yang pertama: ”Laqadjaa akum rasuulun min anfusikum 'aziizum alaihi ma'anittum hariishun alaikum bil mu'miniina rauufun rahiim” (Benar-benar telah datang kepada kalian seorang utusan dari kalangan kalian sendiri yang berat terasa olehnya (tak tahan ia melihat) penderitaan kalian; sangat menginginkan (keselamatan dan kebahagiaan) bagi kalian; dan terhadap orang-orang yang beriman, penuh kasih sayang lagi penyayang.” (Qs. 9: 128).

Konon banyak orang ”luar” tak habis pikir, bagaimana ada pemimpin seperti Nabi Muhammad SAW yang ditaati umat sedemikian rupa, sehingga seandainya Nabi menyuruh mereka mencebur ke dalam lautan api pun, mereka dengan rela dan senang hati melaksanakannya. Justru saya yang akan tak habis pikir jika pemimpin yang seperti itu sifatnya tidak ditaati sedemikian rupa oleh umatnya.
Nabi tak tahan melihat penderitaan umatnya, baik di dunia maupun di akhirat. Maka tak henti-hentinya Nabi menolong dan menyuruh umatnya menolong mereka-mereka yang memerlukan pertolongan, menyantuni, dan menyuruh menyantuni fakir miskin, anak yatim, janda, dan kaum dhuafa.

Nabi tak tahan melihat penderitaan umatnya, maka tak henti-hentinya Nabi berbuat ma'ruf, menjauhi kemungkaran, melakukan dan menganjurkan amar ma'ruf nahi munkar. Nabi tidak tahan melihat penderitaan umatnya, Nabi yang sudah dua hari tidak makan, ketika mendapatkan makanan, mendahulukan sahabatnya yang senasib. Nabi menangis ketika seorang bocah meninggal. Nabi menanyakan tukang sapu yang cukup lama tak kelihatan. Nabi menjenguk dan menganjurkan menjenguk dan mendoakan orang sakit.
Nabi melayat dan menganjurkan melayat. Bahkan ada riwayat yang menceritakan Nabi melayat seorang pecinta burung yang burungnya mati dan mendoakan agar segera mendapat ganti. Dan, Anda tentu pernah mendengar sabda Nabi Muhammad yang luar biasa ini: ”Barang siapa meninggal dan meninggalkan warisan, maka ahli warisnyalah yang berhak atas warisan itu, namun bila meninggalkan utang. akulah yang menanggungnya.“(@mi)

20 April 2006

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kemanusiaan Sebagai Watak Kepemimpinan Nabi Muhammad (1)"

Post a Comment

close