Ibu sebagai garda terdepan menangkal terorisme




Kediri- Pertemuan Hidmat (Himpunan Da'iyah dan Majelis Ta'lim Muslimat NU) dan IHM NU (Ikatan Haji Muslimat NU) yang dilangsungkan pagi tadi (2/4 /17) di Pondok Pesantren Al-Hikmah Purwoasri Kediri berlangsung meriah, di karenakan acara tersebut di hadiri oleh Kepala BNPT Komjen Suhardi Alius selaku pengemban misi menanggulangi terorisme di Indonesia.

Komjen Suhardi menyatakan di hadapan peserta Hidmat dan IHM bahwa "Memarjinalkan anggota keluarga teroris secara tidak langsung menghidupkan kembali jiwa terorisme dalam pribadi mereka. Solusinya adalah menanggulangi akar masalah yang memicu munculnya paham radikalisme dengan cara membekali para ibu tentang pengetahuan islam rahmatan lil alamin dengan cukup."

"Di era sekarang, radikalisme muncul lewat internet, semua informasi bisa diakses lewat smartphone. Tanpa kita sadari anak-anak telah dirangkul, di didik untuk menjadi bagian  dari teroris, oleh karenanya kunci utama dalam mencegah munculnya paham radikal itu adalah melalui seorang ibu. " Imbuh Komjen Suhardi Alius.

"Hidmat NU punya peran besar untuk mendidik putra-putri mereka agar tidak terpengaruh paham radikalisme dan terorisme, salah satu kegiatan yang perlu dilestarikan adalah aktifitas sosial yakni mengajak anak-anak bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, sehingga mereka bisa mempunyai rasa empati dan jiwa sosial yang tinggi terhadap lingkungan mereka." Tandas Komjen dengan penuh harap.

"Anggota teroris biasanya belajar dari negara timur tengah sebelum mereka menjadi teroris sejati di indonesia. Mereka dijauhkan pengetahuan akan pentingnya cinta tanah air. Padahal, pendidikan cinta tanah air disamping pengajaran akhlakul karimah memiliki peran penting akan terbentuknya rasa cinta pada negaranya". Terangnya.

"Paham terorisme selama ini harus diluruskan. Meski teroris sudah ditembak mati tapi paham mereka sudah menyebar secara massif lewat situs-situs internet yang kebanyakan pengaksesnya adalah anak-anak muda. Paham radikal ini pun menyebar dengan cepat, karena waktu terbanyak bagi anak-anak muda masa kini berada di depan smartphonenya. Siapapun takkan bisa menjamin keamanan mereka, kecuali dari diri mereka sendiri, semisal metode brainwash atau pencucian otak tentang memaknai jihad sebagai jihad dengan bom, mengikutkan anak-anak dalam pelatihan militer bisa melalui media sosial." Kata Suhardi Alius dengan lugas.

Oleh karena itu, Kepala BNPT ini pun menghimbau kepada Hidmat dan IHM NU agar bekerjasama dengan psikolog apabila menemukan hal-hal yang ganjil pada anak-anak, seperti mulai suka menyendiri, tidak memiliki empati, bahkan mengkafirkan orang tuanya.

Sebab yang bisa menyelesaikan masalah teroris di indonesia adalah orang indonesia sendiri. Dan kesemuanya bisa ditanggulangi sejak dini oleh kasih sayang dari ibu dan keluarga sendiri. (@mi)


Sumber langsung dari: Novi Nur Lailisna, Pengajar Ponpes Al-Hikmah Purwoasri, Kediri.






Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ibu sebagai garda terdepan menangkal terorisme"

Post a Comment

close