Doa dan Demo



Akhir-akhir ini masyarakat disibukkan atau boleh dibilang menyibukkan diri dengan berbagai acara yang sebenarnya adalah upaya untuk meminta; ada meminta dengan harapan dan ada pula meminta dengan paksaan. Duo pintaan ini memiliki cara dan hasil yang berbeda meskipun secara lahiriahnya identik, bahkan hampir sama.

Doa apabila ditinjau dari gramatika arab berasal dari madli da'a-yad'u-du'aan, yang memiliki arti mengundang, meminta dan mengajak. Sehingga tidak heran selembar undangan pun dapat mewakili makna ajakan menghadiri sebuah kegiatan.

Sedangkan demonstrasi atau disingkat sebagai demo, mempunyai makna unjuk rasa akan ketidak stabilan, ketidakadilan terhadap sesuatu hal yang terjadi. Pendemo meminta dengan caranya masing-masing.

Doa dan demo memiliki wilayah masing-masing. Artinya doa itu kepada Allah, sedangkan demo itu kepada pemerintahan. Sehingga kurang tepat bilamana dibalik menjadi demo itu kepada Allah dan doa itu kepada pemerintahan, meskipun substansinya sama-sama meminta.

Mengapa demo kesannya liar, sedangkan doa tidak? Sebab demo seakan sudah dimonopoli oleh segelintir orang yang orientasinya adalah meminta dengan agak memaksa atau ringkasnya tuntutan. Lain dengan doa yang arah dan tujuannya permintaan dengan dasar ikhlas tanpa muatan. Bisa dibayangkan bila berdoa kepada Allah dengan memaksa, padahal Allah Al-Jabbar Al-Qohhar. Ini sama dengan mempertanyakan eksistensi Allah sebagai Maha Pemaksa.


Istighotsah bukanlah Demo

Kyai tentu berbeda dengan politisi maupun aktifis. Demo kyai adalah dengan istighotsah (berdoa bersama), demikian dawuh KH Mutawakkil Alallah. Sebenarnya statemen ini bila saya pahami melalui pendekatan ilmu mantiq termasuk kategori ta'rif mitsal -menjelaskan sebuah definisi dengan perumpamaan/contoh- yang artinya definisi demo para kyai, misalnya adalah istighotsah bersama, bukan mendefinisikan demo kyai, misalnya adalah makar bersama.

Istighotsah sendiri adalah kumpulan doa yang dilantunkan bersama dengan penuh harapan  kepada Allah, dirangkai kebersamaan, kesatuan, keikhlasan, kesadaran sebagai hamba yang hina, agar negeri ini aman, tentram dan terkendali serta damai. Bukankah ikhtiar (berusaha) dan meminta kepada Allah dibuka selebarnya?! Dan yang terpenting istighotsah bukanlah demo yang bilamana belum dikabulkan Allah, imbasnya akan ada istighotsah jilid dua, tiga dan seterusnya. Bahkan yang tidak ikut hadir dihujani pertanyaan "sampean muslim?".

Ahmad Karomi
Sekretaris PWLTN NU Jatim

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Doa dan Demo"

Post a Comment

close