Cerpen: Para Penabuh Rebana



Oleh: KH. M. Ishom Hadzik (alm)


“Shalatullah salamullah, ala Thaha Rasulillah

Shalatullah salamullah, ala Yasin Habibillah... ... “

“Tak dung tak dung cring cring”

DEWI malam baru saja menampakkan wajahnya, saat lantunan Shalawat Badar ditingkahi tabuhan rebana terdengar sayup-sayup dari sebuah masjid di pinggiran Kutaraja. Belasan pemuda berbaris memanjang masing-masing memegang rebana. Belasan lainnya berjajar bergandengan tangan di depan. Mulut mereka serempak mengucapkan shalawat berirama rancak. Sesekali terdengar nadanya menurun dengan irama syahdu.

Puluhan pemuda itu tengah berlatih keras dipandu seorang pelatih bertampang galak. Sedikit saja terdengar irama atau suara fals bentakan keras terlontar dari mulutnya. Tak heran jika mereka dibayangi ketakutan, karena si pelatih, Irawan, adalah tentara dari korps musik kesatuan militer setempat.

Latihan belum usai ketika iring-iringan mobil berhenti di depan masjid. Beberapa orang turun dan langsung masuk ke masjid. Melihat mereka, Irawan berbalik dan memberi hormat.

“Bagaimana, Wan, latihannya lancar?” tanya seorang pejabat berpakaian safari hitam.

“Siap, Pak Bupati. Tak ada hambatan yang berarti.”

“Bagus, aku tak ingin dipermalukan saat kita menyambut kedatangan presiden nanti,” ujar Bupati Zaenal Abidin.

Usai memberikan instruksi dan berbincang sejenak dengan sang pelatih, rombongan Muspida Kabupaten Kutaraja itu meninggalkan masjid. Latihan diteruskan hingga larut, meski pada pemuda itu sebenarnya sudah payah. Namun Irawan tak peduli. Menjelang dini hari, latihan baru diakhiri.

Malam berikutnya, si pelatih datang terlambat. Sambil menunggu anak-anak muda itu ngobrol melepaskan uneg-uneg mereka.

“Aku malas berlatih. Buat apa kita sambut presiden yang tak pernah memperhatikan aspirasi kita. Datang ke sini cuma bawa janji,” ujar Ahmad.

“Betul, pemerintah sekarang sama saja dengan rezim yang dulu, Cuma menindas rakyat dan menguras alam Aceh. Paling-paling yang diuntungkan Bupati Zaenal. Dia cari muka karena ingin jadi gubernur,” timpal Majid.

“Aku juga tak habis pikir dengan presiden sekarang. Cuma pendukungnya yang dia perhatikan. Tapi ribuan orang Aceh mati dia tak peduli,” sahut Imran yang ayahnya tewas jadi korban operasi militer beberapa tahun silam.

“Sudahlah, buang kejengkelan kalian. Lakukan saja latihan ini dengan ikhlas, pasti ada hikmahnya. Kakekku pernah bilang, kalau kita baca shalawat dengan khusyuk, Nabi akan datang menjumpai kita,” tujas Syafri, yang usianya paling tua dan kerap ditokohkan oleh pemuda setempat.

“Ah masa, kita sudah sering baca shalawat tapi tidak pernah didatangi Nabi,” tukas Majid.

“Ya terserah kalian mau percaya apa tidak. Itu Irwan sudah datang,” ujar Syafri menututp pembicaraan. Kendati belum yakin, mereka enggan berdebat dengan Syafri karena kakeknya, Tengku Ibrahim juga dikenal sebagai pendukung berat Tengku Daut Beureuh, tokoh yang gigih memperjuangkan diberlakukannya syariat Islam di Aceh.

Malam itu mereka berlatih lebih tekun, karena besok sore presiden dijadwalkan tiba dab mereka bertugas menyambut di Bandara Iskandar Muda.

Kendati presiden dijadwalkan baru tiba sore hari selepas dzuhur para penabuh rebana itu sudah diperintahkan siap di bandara. Bupati Zaenal dan anak buahnya, terlihat sibuk mengatur ini itu. Tak lama kemudian, Gubernur Asnawi tiba diikuti rombongan pejabat Provinsi Aceh.

Persiapan menyambut hampir final ketika tiba-tiba telepon genggam gubernur berdering. Setelah berbicara melalui telepon, gubernur memberitahukan kedatangan presiden mungkin terlambat karena cuaca buruk yang mengganggu penerbangan. Namun, semuanya diperintahkan tetap di tempat, termasuk para penabuh rebana yang sudah kecapekan berbaris.

Menjelang magrib, pesawat presiden belum juga mendarat. Para penabuh rebana mulai resah. Mereka ingin minta istirahat, tapi tak berani terus terang. Akhirnya, mereka menabuh rebana dan membaca shalawat sekenanya.

Ketika bacaan shalawat mengalun, tiba-tiba seberkas sinat menyilaukan muncul menyusul bau harum wewangian yang belum pernah mereka kenal. Para penabuh rebana itu tertegun. Entah dari mana datangnya, di depan mereka telah berdiri satu sosok gagah mengenakan jubah kebesaran berwarna perak. Wajahnya bercahaya putih kemerahan. Sorort matanya teduh tapi memancarkan wibawa luar biasa. Sejumlah orang mengiringi di belakangnya. Ada yang cuma mengenakan baju gamis putih, ada pula yang berjubah hitam. Semuanya menampakkan raut yang bersih penuh ketulusan.

“Assalamualaikum,” sapa sosok berwibawa itu disertai lambaian tangan.

“Waalaikumussalam warahmatullah wabarakatuh,” jawaban serempak meluncur dari mulut para penabuh rebana.

Seperti terkena hipnotis, para penabuh rebana itu serentak menabuh dan mendengarkan shalawat yang lazim dibaca dalam acara maulid Nabi.

“Ya Nabi salam alaika, ya Rasul salam alaika

Ya Habib salam alaika, shalawatullah alaika...”

“Tak dung, tak dung, cring cring...”

Ketika sosok berwibawa itu menghampiri, para penabuh rebana dengan tertib menyalami sambil mencium tangannya yang lembut, harum, dan penuh berkah. Mereka juga menyalami rombongan pengiring satu per satu. Sementara bibir mereka tetap melantunkan shalawat. Mereka baru berhenti tatkala sosok berwibawa itu memberi isyarat hendak bicara. Mereka semua menunduk, tak satu pun berani beradu pandang.

“Anak-anakku, pemimpin itu ibarat bayang-bayang Tuhan di bumi. Jika berlaku baik dan adil maka dia bakal memperoleh pahala dan kalian wajib bersyukur diberikan pemimpin seperti itu. Sebaliknya, bila bertindak butuk dan zalim, maka dia akan terkena dosa dan kalian harus bersabar menerimanya. Jangan memberontak, karena bisa timbul fitnah dan kehancuran. Camkan pesanku ini dan assalamualaikum,” ujarnya dengan suara lembut.

Para penabuh rebana itu tak berani mengangkat muka. Mereka cuma melirik sekilas bagaimana sosok berwibawa itu dan para pengiringya lenyap di balik seberkas cahaya terang yang menghilang dalam sekejap. Mereka saling pandang penuh tanda tanya.

“Apakah yang baru datang tadi Nabi kita?” Imran bertanya penasaran.

“Aku yakin itu beliau. Sebab, kata kakek, tak ada satu pun makhluk yang dapat menjelma menyerupai Nabi. Kalian cium aroma yang belum pernah kalian kenal? Itulah keharuman surgawi. Nabi datang karena kita membaca shalawat dengan ikhlas dan khusyuk,” ujar Syafri.

“Kalau begitu, buat apa kita di sini. Bubar sajalah, toh kita sudah bertemu Nabi. Tak perlu lagi kita menyambut presiden,” usul Majid.

Para penabuh rebana itu saling sejenak. Lalu tanpa dikomando, mereka buar. Sementara di kejauhan, terdengar raungan pesawat kepresidenan mendarat di landasan. Gubernur, bupati dan para pejabat sudah baris siap menyambut. Irwan, sang pelatih, berteriak memanggil para penabuh rebana agar kembali, tapi mereka terus berlalu. Maka, upacara penyambutan presiden berlangsung tanpa shalawat. Para penabuh rebana itu tak peduli kemarahan para pejabat yang merasa dipermalukan. Karena bagi mereka, kehadiran Nabi sudah melebihi segalanya.

Malam-malam berikutnya, di masjid kecil di pinggiran Kutaraja, para penabuh rebana itu selalu berlatih. Ada rindu menggumpal di dada mereka. Rindu kehadiran Nabi dan harum surgawi. Shalawat Badar dan Barzanji terdengar tiap malam silih berganti. Mereka berlatih bukan untuk menyambut pejabat, karena mereka tahu shalawat terlalu agung untuk digunakan menyambut pejabat yang kerap menindas rakyat. Mereka Cuma berharap alunan shalawat itu akan mengundang kehadiran Nabi tercinta. Entah kapan, mereka sendiri pun tak tahu. (@mi)

Dikisahkan kembali oleh Atunk Oman
Catatan: cerpen ini disalin dari Koran Jawa Pos, Rubrik Budaya, Minggu 9 Desember 2001.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cerpen: Para Penabuh Rebana"

Post a Comment

close