Bung Karno, Islam dan Politik Internasional





Oleh: Rijal Mumazziq Z (Ketua Lembaga Ta'lif Wan Nasyr PCNU Kota Surabaya)

Selama ini, dari beberapa referensi  terbatas yang saya baca, kontekstualisasi kajian keilmuan Fiqh Siyasah Dauliyah hanya terpaku pada kajian di masa lalu, di saat imperium kaum muslim kuat. Tapi di era modern, khususnya pasa jatuhnya Turki Utsmani, contoh riil fiqh siyasah dauliyah yang dilakukan negara-negara berpenduduk muslim sangat minim contohnya.

Fiqh Siyasah Dauliyah, yang dimaknai secara ringkas sebagai politik internasional yang melibatkan satu negara dengan negara lain dalam berbagai urusan: politik, ekonomi, sosial, hingga militer dan urusan membentuk koalisi, lebih banyak bersifat teoritis-historis. Uraian praksis sesuai kondisi KeIndonesiaan minim. Padahal, jika mau mengkaji lebih dalam, Bung Karno adalah salah satu praktisi Fiqh Siyasah Dauliyah paling jempolan, meski dikemas secara "sekuleristik".

Bung Karno jelas bukan pakar fiqh siyasah yang pandai mengutip dalil maupun landasan tekstual historis berdasarkan teks keislaman di masa lampau, namun dalam strategi-taktis, dia lihai,  sangat lihai. Orang boleh mencaci maki Bung Karno atas alasan idelogis, tapi saya tetap mencintainya dan menganggapnya sebagai salah satu anugrah terindah dari Allah untuk Bangsa Indonesia, bahkan dunia Islam.

Dia mampu mempersatukan bangsa-bangsa kulit berwarna untuk duduk setara dan menumbuhkan kepercayaan diri sebagai sebuah bangsa dalam Konferensi Asia Afrika, 1955, di saat negara Indonesia baru berusia 10 tahun. Alih alih bergabung dengan Blok Barat Kapitalis maupun Blok Timur Komunis, Bung Karno malah membentuk Non-Blok, sebuah antitesa kedua blok di atas. Dalam konsepsi politik Islam, ini adalah bentuk lain sikap tawassuth (moderat) dan hebatnya Bung Karno bisa menjalaninya dengan mengutamakan sikap tawazun (seimbang).

Tahun 1956, Bung Karno melakukan safari politik ke berbagai negara, termasuk Uni Soviet. Dia disambut meriah di Leningrad alias St. Petersburg. Bekeliling kota didampingi Presiden Voroshilov yang sudah gaek dan Ketua Partai Komunis Nikita Khruschev menggunakan mobil sedan bak terbuka, Bung Karno kagum melihat-lihat arsitektur bangunan di kota tua itu. Hingga secara tak sengaja tatapan matanya tertumbuk pada sebuah bangunan besar berkubah indah dengan ornamen yang khas dan didampingi menara menjulang tinggi.

Setelah bertanya, dia mendapat jawaban bahwa bangunan tersebut adalah masjid yang sudah difungsikan menjadi gudang senjata dan peralatan medis usai Revolusi Bolshevik, 1917, sampai Perang Dunia II.

Menjelang pamit, Bung Karno meminta kepada Presiden Voroshilov atas nama dirinya yang muslim agar bersedia memfungsikan masjid kuno tersebut. Presiden Voroshilov mengabulkannya dan sejak saat itu masjid berfungsi kembali. Kaum muslimin di Uni Soviet mengenang kunjungan tersebut, karena berkat jasa Bung Karno, Masjid Biru di jantung Leningrad berfungsi kembali hingga saat ini. Lokasinya tak jauh dari Sungai Neva dan Benteng Peter & Paul yang ikonik di Rusia. Masjid yang didominasi warna biru ini bernama asli Jami'ul Muslimin, tetapi lebih sering dijuluki sebagai Blue Mosque atau Masjid Biru. Namun lebih banyak yang menyebutnya sebagai Masjid Sukarno.

Pada awalnya, pembangunan masjid ini mendapat izin dari Tsar Nicholas II pada 1910 dan diresmikan tiga tahun kemudian. “Arsiteknya, Nikolai Vasilyevich, memadukan dengan cermat ornamen ketimuran dan mosaik biru turquoise pada kubah, gerbang masjid, menara serta mihrab imamnya. Tidak heran jika masjid ini lebih terkenal dengan nama Masjid Biru,” tulis Tomi Lebang dalam Sahabat Lama, Era Baru: 60 Tahun Pasang Surut Hubungan Indonesia-Rusia.

"Tanpa Sukarno mungkin masjid indah yang didirikan tahun 1910 ini sudah hancur sebagaimana masjid dan gereja lainnya,” ujar imam masjid, Mufti Ja’far Nasibullah, sebagaimana dikutip Aji Surya, diplomat alumnus Pesantren Gontor yang bertugas di Rusia, dalam "Segenggam Cinta dari Moskwa: Catatan Perjalanan di Rusia".

Jejak Bung Karno di Uni Soviet, khususnya di Bukhara dan Tashkent, Uzbekistan, tetap diingat oleh kaum muslimin yang ada di sana. Berkat lobi tingkat tinggi kepada Nikita Khruschev yang saat itu sudah menjadi Perdana Menteri, makam Imam Bukhari dan Imam Syasi (salah seorang ulama besar Madzhab Syafii) di Bukhara yang terbengkalai dan masjid yang nyaris ambruk, dipugar kembali. Jalan menuju lokasi diperbaiki menjelang kunjungan Bung Karno ke Tashkent, Uzbekistan. Foto-foto Bung Karno yang disambut lautan massa di negara tersebut masih ada. Bahkan, saking kagumnya dengan Bung Karno yang dianggap pahlawan Asia, ada seorang petani Uzbekistan yang menghadiahi kuda jantan terbaik. Dalam foto yang beredar, Bung Karno tampak senang, sama sama tersenyum bersama sang petani. Salah seorang pemuka umat Islam lainnya malah meminta nama buat bayi perempuannya yang lahir bertepatan dengan kunjungan Bung Karno. Ada dua versi kunjungan Bung Karno di Uzbekistan. Satu pihak mengatakan kunjungan dilakukan pada tahun 1956, selepas Bung Karno mengunjungi Leningrad, versi lainnya kunjungan dilakukan pada tahun 1960-an, saat Bung Karno melakukan safari politik untuk kedua kalinya di Uni Soviet.

Sahabat saya, Mas Didik Iswanto, yang sudah bertahun-tahun menjadi chef di KBRI di Tashkent, menjelaskan apabila kaum muslimin yang tinggal di sekitar makam Imam Bukhari masih mengingat baik jasa Bung Karno. Ketika mereka melihat orang-orang bertampang Melayu menggunakan peci hitam sedang berziarah, sontak mereka akan mengucapkan salam dan menyebut "Zuu Kar Nuuu...Zu Kar Nuuu...". Juru kunci makam tak mau kalah. Melihat peziarah asal Indonesia, dia sontak menyambut hangat dan membuka pintu bawah tanah menuju pusara Sang Amirul Mukminin fil Hadits itu. Sebuah perlakuan istimewa yang hanya karena mengingat jasa Bung Karno.

Solidaritas Negara Muslim

Ketika membaca buku "Dunia dalam Genggaman Bung Karo" karya Sigit Aris Prasetyo, saya melihat apabila Bung Karno menjalankan politik persahahabatan secara luwes. Ketika melakukan safari politik ke berbagai negara, Bung Karno melakukan pendekatan manusiawi, sehingga pertemuan antar kepala negara lebih terasa pertemuan antara dua orang sahabat, daripada perjumpaan antar pemimpin negara. Coba kita cek berbagai foto Bung Karno dengan Nehru, Ho Chi Minh, Mao Zedong, Chou En Lai, Nikita Khruschev, Josip Broz Tito, Gamal Abdul Nasser, John F. Kennedy, Kim Il Sung, Raja Saud bin Abdul Aziz, Ahmad bin Bella, Habib Berguiba, Raja Muhammad V, Che Guevara, Fidel Castro, Ayub Khan, Kaisar Haile Selassie, Ahmed Sekou Toure, Raja Norodom Sihanouk dan sebagainya. Dalam semua foto, Bung Karno pasti menampilkan senyum tulus dan gestur persahabatan yang juga dibalas dengan mimik wajah dan ekspresi tubuh bersahabat dari lawannya. Dengan pendekatan humanis ini, tak heran jika Indonesua banyak mendapatkan tempat di hati para pemimpin asing. Padahal saat itu, Indonesia masih "beranjak dewasa" sebagai sebuah negara. Tanpa pendekatan humanis dan kharisma Bung Karno, mustahil Konferensi Asia Afrika bisa berjalan dengan meriah dan dihadiri puluhan negara.

Setelah melaksanakan KAA, April 1955, Bung Karno semakin berani mendukung kemerdekaan negara negara di Afrika. Bahkan Bung Karno menyediakan sebuah rumah megah di Jl. Teuku Chik Di Tiro, Jakarta, dan meminta agar negara-negara muslim di Afrika yang masih dijajah menggunakannya sebagai kantor perjuangan bersama menentang kolonialisme. Semua akomodasi disediakan penuh oleh Bung Karno bagi pejuang Aljazair, Maroko, Tunisia dan beberapa negara Afrika yang ngantor di dalamnya. Termasuk Palestina. Ketika dua kapal selam produksi Yugoslavia tiba di Jakarta, Bung Karno secara diam-diam mengirimkan ribuan pucuk senjata ke Aljazair menggunakan dua kapal selam tersebut. Tindakan yang diketahui intelijen Perancis dan membuat Charles de Gaulle sewot kepada Bung Karno.

Ketika Putra Sang Fajar ini berkunjung ke Saudi Arabia dan menunaikan ibadah haji pertama kalinya, 1960, dia merasakan terik matahari yang menyengat. Kepada Raja Saud bin Abdul Aziz, Bung Karno menawarkan pohon istimewa yang bisa ditanam di kawasan tandus. Atas persetujuan raja, Pohon Mindi (melia azedarah) atau uang juga disebut Pohon Sukarno banyak ditanam di sekitar padang Arafah dan bisa bertahan hingga saat ini. Tak heran jika kharisma Bung Karno bisa membuat Raja Salman bin Abdul Aziz masih mengingat betul kunjungan yang dilakukan puluhan tahun silam hingga saat mendarat di istana negara, beberapa bulan lalu, yang ditanyakan pertama kali adalah: di mana cucu Sukarno? Sebuah pertanyaan yang hampir sama dilontarkan oleh Nelson Mandela saat berkunjung ke Gedung Asia Afrika di Bandung, tahun 1990. "Mana foto Soekarno? Where is the picture of Soekarno? Every leaders came to Bandung because Soekarno. He was inspired me!" kata mantan ajudan Soekarno, Sidarto Danusubroto, yang saat itu  mendampingi kunjungan Mandela sebagai Kapolda Jawa Barat, 1988-1991. Mandela mengaku dirinya terbakar oleh pidato Bung Karno dalam Konferensi Asia Afrika, 1955, yang banyak menginspirasi gerakan kemerdekaan bangsa di Asia dan Afrika, maka sungguh aneh jika tidak mendapati satu foto Sukarno di gedung bersejarah itu.

Di Mesir, nama Sukarno juga mendapatkan tempat tersendiri di hati rakyat. Kaum tua masih mengungat kunjungan Bung Karno ke Mesir. Sedangkan aparat intelijen dan keamanan Mesir masih terpengaruh cerita masa lalu mengenai persahabatan Gamal Abdul Nasser dengan Bung Karno. Silahkan dicek di internet, betapa banyak kisah "keberkahan" nama besar Ahmed Sukarno dan peci hitamnya di Mesir.

Ikatan emosional Mesir-Indonesia terjalin bukan hanya karena Nasser akrab dengan Bung Karno, melainkan karena ketulusan pria kelahiran Surabaya tersebut saat membantu Mesir melewati krisis. Saat Nasser memutuskan menasionalisasi Terusan Suez yang membuat Perancis dan negara Barat mengancam menyerbu Mesir, Bung Karno langsung membela Nasser dan memutuskan mengirimkan TNI dalam bentuk KONTINGEN GARUDA untuk pertama kalinya. Inilah delegasi penjaga perdamaian yang pertama kali dibentuk Bung Karno lalu dilestarikan hingga saat ini. Ketika Nasser mengeluarkan kebijakan mau menutup Universitas Al-Azhar, dia pertama kali menelepon Bung Karno untuk sekadar berkonsultasi. Alasannya, dia khawatir jika ulama al-Azhar akan  bergabung dengan Ikhwanul Muslimin dan mendongkel kekuasaannya.

Mendengar rencana ini, Bung Karno marah. "Ahmad Soekarno menanggapi, apakah engkau bakal menghapus Nil? Apakah engkau bakal menghapus piramid? Kita tidak mengenal kalian sama sekali kecuali dengan Al Azhar!” ujar Syeikh Ali Jum’ah yang mengisahkan cerita Sukarno menyelamatkan al-Azhar ini dalam wawancara dengan stasiun televisi.

Mantan Mufti Nasional Mesir tersebut mengamini pandangan Bung Karno bahwa Al Azhar dan Mesir ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan, yakni Al Azhar adalah Mesir, dan Mesir adalah Al Azhar.

Peristiwa itu menurut Syeikh Ali Jum’ah terjadi pada tahun 1959. Setelah itu, terbit undang-undang yang pasal utamanya berisi bahwa Al Azhar adalah rujukan keislaman seluruh dunia, bukan hanya sebatas Mesir saja. Universitas Al-Azhar batal ditutup.

Berkat jasa tersebut, Universitas Al Azhar menganugrahkan doktor kehormatan (doktor honoris causa) kepada Bung Karno dalam kunjungan ketiga ke Mesir pada bulan April 1960.

Syaikul Azhar Mahmoud Shaltut menyematkan gelar kehormatan akademis itu di gedung pertemuan Universitas Al Azhar pada tanggal 24 April 1960, pukul 12.00 waktu setempat, seperti terekam dalam buku “Jauh di Mata Dekat di Hati: Potret Hubungan Indonesia-Mesir”.

Langkah terakhir Bung Karno untuk mempersatukan negara- negara Islam dilakukan dengan cara menyelenggarakan
Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA), Maret 1965, setelah sukses membentuk front Conference of New Emerging Force (Conefo). KH. Achmad Sjaichu, pengurus PBNU yang juga putra tiri KH. A. Wahab Chasbullah, ditunjuk sebagai sekretaris jenderal KIAA.

Melalui konferensi ini lahirlah Organisasi Islam Asia-Afrika (OIAA). KH. Achmad Sjaichu dalam konferensi Islam Asia-Afrika dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal. Demikian pula ketika KIAA membentuk OIAA, dia dipilih sebagai Presiden Dewan Pusat OIAA dan dikukuhkan oleh Presiden Soekarno.

Cerdas Memanfaatkan Umpan

Saya tidak tahu apakah langkah Bung Karno menasionalisasi sekitar 700 perusahaan milik Belanda pada tahun 1957 itu secara fiqh bisa dikategorikan sebagai fai'? Kebijakan nasionalisasi ini muncul sebagai akibat dari ‘buntunya’ perjuangan mengembalikan Irian Barat dari tangan Belanda ke pangkuan Republik Indonesia (RI) melalui jalur diplomasi, pasca perjanjian konferensi meja bundar  (KMB) 1949.
Pemerintahan Bung Karno memutuskan untuk  menghadapi Belanda dengan cara frontal, yakni  membatalkan perjanjian KMB secara sepihak dan melakukan nasionalisasi terhadap perusahaan Belanda. Secara politis ini adalah terobosan cerdas untuk menggertak  Belanda, sedangkan secara fiqh mungkin inilah yang bisa disebut sebagai Fai', yaitu harta yang dihasilkan oleh umat Islam dari harta orang kafir tanpa peperangan, atau menunggang kuda atau kendaraan (al-mal al-hasil lil muslimina min amwal al-kuffar bighairi qitalin waa ijafi khailin wa la rikabin). Dalam konteks nasionalisasi ini, wallahu A'lam, butuh tinjauan mendalam mengenai tindakan ini dalam kacamata fiqh, sekaligus mencermati illat-nya.

Dalam politik internasional lainnya, Bung Karno pandai memanfaatkan umpan. Dalam hal ini kasus Allen Pope menjadi contoh taktisnya. Dalam kajian fiqh, terdapat istilah rahain (sandera) dan muqatil (kombatan). Sandera adalah seseorang yang ditahan dan diancam akan dilukai karena ada tuntutan kepada pihak ketiga tidak dalam keadaan perang. Sedangkan dalam kondisi peperangan, kombatan yang tertangkap dan menjadi tawanan perang dalam kajian fiqh disebut al-asir. Salah satu tawanan perang ini, dalam konflik antara pemerintah pusat dengan pemberontak PRRI/Permesta, adalah Allen Pope, agen CIA yang ditugaskan menjadi pilot pesawat PRRI. Ini salah satu pemberontakan terberat karena Permesta didukung pesawat tempur, senjata anti pesawat, dan senjata anti tank. Semua dipasok oleh AS. Ketika pesawat yang dikendarai Pope jatuh tertembak, pilot ini langsung ditahan dan diadili di Jakarta. Dalam kajian fiqh, status Pope adalah tawanan perang, bukan sandera. Dan karena itu tidak heran jika kemudian Pope dijadikan alat tukar menukar (tabadul) antara Indonesia dengan AS di era kepemimpinan John F. Kennedy.

Pope, agen CIA ini, pada 1959 ditukar dengan senjata untuk beberapa batalion dan 6 pesawat Hercules yang saat itu baru beberapa tahun diluncurkan. Jadilah AURI sebagai militer di luar AS yang punya Hercules. Bung Karno memang sengaja menunda pertukaran manusia dengan pesawat ini semata mata demi persiapan Indonesia merebut Irian Barat. Setelah sukses menjaring hasil dari AS menggunakan umpan Pope, Bung Karno ganti melobi Uni Soviet. Nikita Khruschev dilobi untuk membantu Indonesia melengkapi armada laut menjelang operasi perebutan Irian Barat. Krhuschev menyanggupi. Sebagian alutsista beli, sebagian barter, sebagian lagi hibah. Tak heran jika saat itu Indonesia punya alutsista paling top. Di udara, kekuatan AURI dilengkapi pesawat Antonov, MiG, Tupolev, Heli MI4 dan MI6, sedangkan ALRI juga didukung alutsita bikinan Uni Soviet dari kapal perang jumbo, kapal selam hingga korvet paling canggih di zamannya.

Menjelang Operasi Mandala merebut Irian Barat, Bung Karno terlebih dulu meminta pendapat Rais Aam Syuriah PBNU, KH. A. Wahab Chasbullah, yang juga ayah Menteri Agama KH. Wahib Wahab.

Setelah beberapa kali diadakan perundingan untuk menyelesaikan Irian Barat dan selalu gagal, Bung Karno menghubungi Kiai Wahab di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Bung Karno memanyakan bagaimana hukum orang-orang Belanda yang masih bercokol di Irian Barat?

Kiai Wahab menjawab tegas,”Hukumnya sama dengan orang yang ghasab.”

“Apa artinya ghasab, kiai?” Tanya Bung Karno

Ghasab itu istihqaqu maalil ghair bighairi idznihi.Artinya, menguasai hak milik orang lain tanpa izin,” terang Kiai Wahab.

“Lalu bagaimana solusi menghadapi orang yangghasab?”

“Adakan perdamaian,” tutur  Kiai Wahab.

Lalu Bung Karno bertanya lagi,”Menurut insting Kiai, apakah jika diadakan perundingan damai akan berhasil?”

“Tidak.”

“Lalu, mengapai kita tidak potong kompas saja Kiai? Bung Karno sedikit memancing.

“Tak boleh potong kompas dalam syariah,” kata Kiai Wahab.

Selanjutnya Bung Karno mengutus Soebandrio mengadakan perundingan yang terakhir kali dengan Belanda untuk menyelesaikan konflik Irian Barat.

Perundingan ini akhirnya gagal. Kegagalan ini disampaikan Bung Karno kepada Kiai Wahab.”Kiai, apa solui selanjutny menyelesaikan Irian Barat?”

“Akhodzahu qohron (ambil dengan paksa!).” Kiai Wahab menjawab dengan tegas.

“Apa rujukan Kiai memutuskan masalah ini?

“Saya mengambil literatur Kitab Fath al-Qarib dan syarahnya (al-Baijuri).”

Setelah itu, barulang Bung Karno membentuk barisan Trikora (Tiga Komando Rakyat).

Kisah yang dinukilkan dari buku Karya Intelektual Ra’is Akbar dan Ra’is Aam al-Marhumien Pengurus Besar Nahdlatul Ulama karya KH A Aziz Masyhuri ini menunjukkan antara lain kontekstualisasi kitab kuning yang oleh sebagaian kalangan justru dianggap sebelah mata. Dengan pijakan fiqh ini kemudian Operasi Perebutan Irian Barat dimulai.

Jika operasi militer dilakukan dengan Maklumat Trikora, sebelumnya Bung Karno juga melobi John F. Kennedy saat kunjungannya ke AS, agar delegasi Paman Sam tidak membantu Belanda di sidang PBB.
"Bukankah secara fisik orang orang Irian Barat itu sama sekali tidak mirip kalian?" protes John. F. Kennedy.

Bung Karno memanggil Johannes Leimena yang saat itu ikut rombongannya.

"Kau lihat, John, ini adalah Leimena, dia berasal dari Indonesia Timur. Secara fisik lebih mirip kami."

Kennedy manggut manggut.

"Jika kau bilang fisik penduduk Papua Barat itu sama sekali tidak mirip dengan kami, lantas apakah kau akan bilang jika penduduk Papua berkulit putih, berhidung mancung, pipi kemerah merahan mirip orang orang Belanda?" tukas Bung Karno.
----
Mencermati uraian di atas, langkah-langkah politik internasional yang dilakukan Bung Karno sebenarnya merupakan pengejawantahan Mukaddimah UUD 1945. Bung Karno membantu kemerdekaan negara negara di Asia Afrika dan memberikan inspirasi kepada para pemimpin negara muslim lainnya untuk tegak dan tidak terseret pada pusaran konflik antara Blok Barat Kapitalis dan Blok Timur Komunis.

Bung Karno memang pemimpin yang tidak sempurna, namun berbagai tindakannya dan kontribusinya pada dunia Islam, saya kira menjadi catatan istimewa dan amal jariyahnya di akherat. Untuk memerdekakan bangsanya, kita tahu dia banyak berkorban. Dan, untuk mempersatukan bangsanya dia puluhan kali nyaris terbunuh, baik disniper, digranat, dibom, hingga diberondong jet MiG di atas istana negara. Dia gandrung persatuan, namun karena mempertahankan kegandrungan yang dicitacitakan itu pula dia harus turun dari kursi kepresidenan.

Saya seorang santri, dan bangga menghaturkan al-Fatihah kepada ruh Bung Karno setiap selesai shalat. Ini adalah salah satu bentuk rasa syukur saya karena Allah telah memberikan anugerah terindah untuk bangsa Indonesia bernama Sukarno.

Lihadroti Ruhi arrais al awwal lil indunisi Ahmad Sukarno Lahul Fatihah (@mi)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bung Karno, Islam dan Politik Internasional"

Post a Comment

close