Mengenal pemikiran KH. Hasyim Muzadi (2): Menyelami Dunia Pesantren


Permasalahan dunia Pesantren







Oleh: KH. Hasyim Muzadi

Berdasarkan uraian di atas (arsip sebelumnya.red) tampaknya tidak ada seorangpun yang memungkiri bahwa peran pesantren dalam proses pertumbuhan dan perkembangan NU sangatlah signifikan. Bahkan keterlibatannya pada masa sebelum dan di saat berdirinya
NU bukan saja menetukan hidup dan matinya organisasi para ulama tersebut, tetapi juga berperan sebagai motor utama yang terus menerus mengarahkan gerakan kultural NU.

Dunia pesantren sendiri sebenarnya memiliki keunikan, khususnya menyangkut nilai-nilai yang terkait erat dengan simbol-simbol pemaknaan agama yang berfungsi sebagai elemen penting pembentuk kesadaran kolektif para anggotanya. Berbeda dengan kelompok Islam modernis yang lebih mengedepankan kekritisan nalar ilmiah akademis serta cenderung mencari jawaban agama langsung dari teks Al-Qur”an dan Hadis yang kemudian dikonfirmasikan dengan konteks perubahan zaman, pesantren-pesantren secara umum lebih didominasi oleh wacana keagamaan yang relatif dibakukan berdasarkan hasil-hasil ijitihad ulama salaf dalam kumpulan-kumpulan yurisprudensi Islam sebagai referensi otoritatif yang dianggap selalu relevan sepanjang waktu dan di segala ruang. Dalam realitas empirik, bangunan wacana ini bisa dilihat dari maraknya pengajaran kitab-kitab kuning, yang meskipun sebagian isinya membahas seluk beluk tata bahasa Arab tetapi sangat banyak yang berisi ajaran akidah, tasauf, serta kajian-kajian hukum Islam yang terkenal dengan sebutan kitab fikih.

Namun yang perlu diperhatikan karena mungkin luput dari pengamatan banyak orang, pembakuan wacana keagamaan tersebut sering kali divonis sebagai bentuk pemasungan kreatifitas berpikir di kalangan para santri. Padahal kendati Selalu merujuk pada teks-teks klasik yang tak lepas dari pengaruh zamannya, semangat ilmiah yang berdiri di atas obyektivitas nalar dan progresivitas pemikiran sebenarnya tetap saja tumbuh seperti fenomena bahsul masail yang sarat dengan penjelajahan intelektual, meski pada tingkat tertentu diupayakan agar tidak sampai keluar dari bingkai Aswaja (ahlussunnah waljamaah).

Selain itu, kitab-kitab ulama salaf secara tidak langsung juga ikut mempengaruhi tata pergaulan di antara sesama orang pesantren. Dengan ilustrasi contoh yang ekstrim, bila mencermati perilaku para santri yang begitu “lurus" menerapkan apa yang ada dalam kitab ta'lim al-muta'allim, yaitu kitab tentang etika belajar-mengajar yang dipakai hampir semua pesantren, kita tidak akan merasa aneh ketika menyaksikan betapa merendahnya
seorang santri di hadapan sang kyai, bahkan terkadang sampai tidak berani menatap langsung wajah gurunya tersebut sewaktu berbicara atau berdialog. Demikian pula dengan penghormatan mereka yang sangat besar terhadap keluarga kyai, khususnya
para putera puterinya yang dianggap ikut mewarisi simbol kewibawaan kultural.


Perpaduan antara dominannya wacana Islam klasik dan kuatnya nilai-nilai moral dan etika yang dicontohkan secara ekstrim di atas, pada gilirannya akan menghasilkan para agamawan yang pengetahuan agamanya di satu sisi cukup mumpuni karena dibiasakan bersentuhan dengan literatur klasik berbahasa Arab yang merupakan sumber primer dalam mengkaji ilmu-ilmu keislaman, serta di sisi lain juga memegang nilai-nilai etis sebagai seorang muslim.

Hanya saja, Pembakuan pengetahuan keagamaan dalam sebuah kerangka berpikir yang terkadang bersifat kaku sangat potensial menyulitkan proses antisipasi terhadap perkembangan paradigma agama yang terus menyempurnakan diri, apalagi di saat ilmu pengetahuan dan teknologi mulai mencapai kemajuan yang kerap tidak disangka sebelumnya. Di samping itu, internalisasi nilai-nilai moral dan etika yang agak berlebihan
tanpa disadari cukup berpotensi memunculkan budaya feodalistik yang merugikan.

Akan tetapi yang patut disyukuri, kebanyakan pesantren sekarang ini dapat dikatakan mulai meninggalkan metode edukasi yang memasung daya kritis seseorang. Para santri tidak lagi merasa canggung atau segan untuk mendebat pendapat kyainya dalam suatu ruang diskusi. Rata-rata mereka mulai sadar bahwa penghormatan tidak boleh dimasukkan dalam konteks pemikiran, melainkan bagian dari etika murni, yang itupun dilakukan dengan catatan tidak berlebihan atau melampaui proporsi yang wajar.

Bahkan kalau dikembalikan pada konsep salafiyah, masalah pemikiran tidak pernah dicampuradukkan dengan adab atau etika. Perbedaan pemikiran antara Syafii yang konon sangat hormat kepada gurunya, Malik, serta sebaliknya Malik yang juga sering memuji muridnya itu, merupakan salah satu contoh betapa kekritisan tidak boleh terganggu oleh keharusan beretika dalam pergaulan.

Seandainya masih ada pesantren yang tetap memperlihatkan corak feodalistiknya, hal ini tak lebih disebabkan kekeliruan penerapan metode edukasi (pendidikan), atau secara umum lebih merupakan gejala kultural, bukan syariat. Dan yang pasti, pesantren seperti ini lama-lama berkurang dengan masuknya sekolah-sekolah ke dalam lingkungan pesantren. Malah di Malang telah ada pesantren mahasiswa Al-Hikam yang didirikan karena dilatarbelakangi adanya keinginan untuk menyediakan pendidikan pasca pesantren dalam rangka “mengintelekkan” para santri Bila sebelumnya diri mereka telah penuh dengan muatan nilai-nilai agama, tetapi ilmu yang dimilikinya tergenang, maka nantinya diharapkan genangan ilmu mereka tersebut dapat dibedah, diperbaiki, dan dikembalikan lagi ke asalnya untuk melakukan inner development. Jadi pada level pendidikan ini tidak lagi diajarkan bagaimana cara membaca kitab, tetapi bagaimana menerapkan pengetahuan tentang kitab tersebut dalam suatu tata pemikiran yang berkembang serta mengkemasnya sesuai tuntutan zaman, hasilnya nanti diharapkan lebih bagus daripada para pakar yang tidak menguasai materi ilmu-ilmu agama.

Dan sebenarnya dari dulu juga sudah ada, kalau tidak boleh dikatakan cukup banyak, pesantren-pesantren yang mengajarkan filsafat ataupun metodologi berfikir kritis sebagai alat untuk memahami ajaran agama secara kreatif, sebagaimana ditetapkan oleh K. H. Hasyim Asy”ari di pesantrennya Tebuireng sehingga perdebatan antara beliau dengan para santrinyapun sering terjadi tanpa ada perasaan risih karena bertentangan dengan adab sopan santun seorang murid di hadapan gurunya. Begitu pula di pesantrennya K. H. Abu Fadhal serta beberapa pesantren lainnya.

Namun terlepas dari kelebihan dan kekurangan yang menjadi sisi keunikannya, pesantren adalah aset NU yang mesti dijaga dan dibenahi secara serius dan sistematis supaya kehadirannya di masa mendatang tidak sampai menjadi “beban” bagi peremajaan NU, melainkan lahan perintis yang tidak kalah pamornya dibandingkan institusi-institusi pendidikan manapun serta lembaga-lembaga pemberdayaan masyarakat lainnya.

Supaya terwujud, penitian harapan ini bisa dimulai dengan cara menyediakan akses informasi yang memadai bagi pesantren atau para kyai agar dapat mengikuti perkembangan kompleksitas permasalahan kontemporer serta memperluas wawasan yang berkaitan dengan informasi tersebut. Pada dasarnya pengetahuan agama yang menjadi modal utama komunitas pesantren relatif mencukupi. Tetapi karena pengetahuan tersebut cuma berkutat di seputar tema-tema yang ada dalam kitab-kitab klasik, maka timbul kegagapan sewaktu dipakai untuk menganalisa persoalan- persoalan, baik yang secara substansial memang sama sekali baru maupun yang hanya tampak asing karena problem kebahasaan.

Kalau dulu mungkin masih cukup banyak warga NU yang merasa kesulitan memahami peristiwa-peristiwa aktual yang mencuat di tengah-tengah masyarakat karena terhalang oleh kendala teknis seperti keterbatasan bahasa komunikasi yang dikuasai ataupun disebabkan kuatnya pengaruh simbolisme agama, maka kelak kesenjangan akses informasi seperti ini diharapkan dapat teratasi, paling tidak diminimalisir hingga titik terendah. Bahkan dengan akses informasi yang memadai, kyai-kyai nantinya juga dituntut untuk memahami permasalahan HAM, demokrasi, dan semacamnya agar lebih menyadari bahwa dampak negatif dari sebuah pelanggaran HAM dan prinsip demokrasi sebenarnya tidak kalah berbahaya dibanding perjudian dan minuman keras. (Bersambung)


Sumber: Nahdlatul Ulama di tengah agenda persoalan bangsa
Penerbit: Logos Wacana Ilmu, Ciputat. (@mi)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mengenal pemikiran KH. Hasyim Muzadi (2): Menyelami Dunia Pesantren"

Post a Comment

close