Pendidikan dalam Menghadapi MEA

Oleh: Ulun Niati*

Sekarang ini zaman sudah semakin modern. Teknologi semakin canggih saja. Segala peristiwa yang terjadi dibelahan bumi manapun dapat segera diketahui dengan cepat dalam waktu sekejap saja. Batas Negara semakin kabur, Negara-negara lain dapat masuk ke Indonesia dengan mudahnya.
Baru-baru ini muncul istilah MEA atau Masyarakat Ekonomi ASEAN. MEA memiliki tujuan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat ASEAN. Adanya MEA ini memiliki dampak positif dan negatif bagi Indonesia.

Dampak positif di sini Indonesia memiliki kesempatan untuk memperkenalkan produk-produk dalam negeri yang berkualitas. Sehingga produk-produk dalam negeri dapat- bersaing di kancah internasional (ASEAN khususnya).

Dampak negatif, karena Indonesia belum memiliki persiapan yang matang dalam menghadapi MEA. Berbicara tentang MEA berarti berbicara mengenai masyarakat se-ASEAN. Sedangkan masyarakat se-ASEAN dapat dihubungkan melalui bahasa yaitu Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional.

Bahasa Inggris merupakan kendala yang sebenarnya harus dihadapi oleh pemerintah. Karena Bahasa Inggris sendiri sudah memiliki tempat tersendiri dalam pendidikan tetapi pada kenyataannya bahasa Inggris belum bisa membaur dengan masyarakat, khususnya masyarakat bawah. Yang juga menjadi permasalahan ialah mengenai kesiapan Indonesia dalam menghadapi MEA. Apakah pemerintah siap menghadapinya? MEA adalah liberalisasi disemua aspek kehidupan, tak terkecuali mengenai pendidikan. Berkata siap dalam menghadapi MEA berarti juga siap dalam mencetak tenaga-tenaga atau peserta didik yang terampil, cerdas, berkompeten, menguasai teknologi dan lain sebagainya.

Pemerintah mengatakan siap dalam menghadapi MEA. Tetapi sampai saat ini belum ada kebijakan yang tepat atau pas untuk membentuk sumber daya manusia (SDM) berkualitas agar bisa menghadapi MEA serta ikut berperan didalamnya dan tidak sekedar menjadi penonton tapi harus menjadi aktornya. Akibat dari MEA akan sangat fatal jika tak ada perhatian khusus didalamnya terutama mengenai kualitas sumber daya manusianya yang dibentuk dalam pendidikan.

Membahas tentang MEA berarti sama halnya mempersiapkan sumber daya manusia berkualitas agar bisa berperan dalam MEA. Sedangkan untuk meningkatkan SDM berkualitas ini dilakukan melalui pendidikan. Peserta didik harus dicetak agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat masa depan. Dalam situasi yang seperti ini siswa diibaratkan seperti produk, pendidikan sebagai sebagai pabrik dan masyarakat sebagai pasar pengguna produk. Agar produk sesuai keinginan pasar. Siswa dididik sesuai dengan berbagai tuntutan zaman dimasa yang akan datang. Yang menjadi pertanyaan besar kali ini adalah apakah pendidikan di Indonesia sudah sesuai dengan berbagai tuntutan besar diluar sana?
Berbicara tentang kenyataan pendidikan di Indonesia permasalahannya sangatlah kompleks. Contohnya saja mengenai kurikulum.

Pada pemerintahan SBY dengan Menteri Pendidikan Muhammad Nuh mencanangkan Kurikulum 2013. SBY banyak menggelontorkan dana guna mewujudkan kurikulum 2013 ini. Kurikulum 2013 ini lebih menekankan pada pendidikan karakter. Tetapi kini masa jabatan SBY sudah habis dan digantikan dengan pak jokowi dengan menteri pendidikan Pak Anies Baswedan. Di Indonesia sepertinya sudah menjadi suatu kebiasaan bahwa tiap kali ganti menteri maka ganti kurikulum.

Masalah baru di Indonesia ialah tidak diterapkannya kurikulum 2013 secara nasional. Di sekolah-sekolah tidak semua menerapkan K2013, tetapi ada yang menerapkan kurikulum sebelumnya yaitu KTSP. Jika pemerintah tidak dapat menghadapi berbagai permasalahan khususnya di dunia pendidikan maka Indonesia akan tertinggal dan hanya akan menjadi penonton masyarakat Indonesia sendiri yang tak berkualitas akan tersingkirkan. Tindakan yang tegas dari pemerintah dalam dunia pendidikan akan membantu masyarakat dalam menghadapi persaingan yang begitu ketat.

Oleh karena itu, tidak ada cara yang lebih tepat untuk menghadapi MEA ini selain dari pemerintah juga dari kesadaran individu sendiri untuk selalu memperbaiki kualitas diri. Juga ketegasan dari pemerintah dalam mencanangkan kurikulum yang seharusnya dipakai. Pemerintah hendaknya membuat kurikulum yang sesuai atau yang dibutuhkan oleh peserta didik nantinya dimasa yang akan datang. Wallahu’alam. **

*Mahasiswa IAIN, Ketua IPPNU PKPT IAIN Jember, serta Mahasantri PP Darul Hikam Mangli Kaliwates.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pendidikan dalam Menghadapi MEA"

Post a Comment

close