Keikhlasan Sang Kyai

Oleh: Dewi Sofiyatul Karima* 
Senja di sore hari itu, sebagaimana hari-hari biasanya. Sebuah pesantren kecil yang berpopulasi 3000 santri, tampak masih sibuk dalam menimba ilmu. Semburat matahari sore yang indah oleh keperkasaan gunung Meru masih berusaha memuntahkan sinar keemasan menyirami seluruh santrinya.
Di kaki gunung yang timbun, terdapat di penghujung  jalan desa yang di dalamnya terdapat pesantren kecil, tampak jutaan bunga bermekaran beraneka warna tertata rapi dan memesona. Di sana terdapat bunga-bunga yang bertahan di lingkungan pesantren dengan penuh do’a yang tak bisa dilihat oleh panca indra. Di sana juga terdapat kelas yang masih terproses pembelajaran oleh sang kyai. Kyai yang terkenal dengan kealiman, kecerdasan, dan kewibawaannya, tak pernah absen dalam memberikan ilmu pada santri-santrinya.
Beliau tidak begitu suka dalam memerintah sesuatu kepada khodimnya selagi beliau  bisa melakukannya sendiri, beliau selalu memperhatikan keadaan di lingkungan pesantrennya. Ketika beliau sedang mengontrol lingkungan pesantren dan terdapat sampah yang berserakan maka beliau langsung mengambil sampah tersebut dengan tangan bersih beliau tanpa menunggu santrinya. Mungkin menurut kita itu biasa, tapi ketika sesuatu yang biasa itu dilakukan oleh kyai,yang manakita harus menghormati dan memulyakannya. Sedangkan  sampah tersebut itu bukan milik sang kyai, maka itu sangatlah luar biasa. Tidak semua pemimpin bisa melakukan semua itu, tapi sang kyai memberi tauladan yang sangat baik untuk santrinya.
Disuatu hari sebuah kelas terdapat beberapa santri sedang menunggu sang kyai, entah mengapa sang kyai tak kunjung hadir, di samping itu terdapat santri yang mengetahui penyebab sang kyai tak kunjung hadir. Tanpa kyai bercerita, santri pun mengetahui bahwa sang kyai menderita penyakit yang agak serius. Setengah jam telah terlewat, tapi setelah itu beliau hadir dengan bibir yang pucat. Santri pun tahu kalau sang kyai sedang memendam penyakit dan mencoba tetap hadir dalam majlis ta’lim. Sungguh besar pengorbanannya untuk memberikan ilmu kepada santrinya. Dan santri pun fokus dalam pembelajaran di kelas tersebut.
Kegiatan sehari-hari di pesantren itu berjalan dengan istiqomah. Tak pernah ada libur dalam beribadah, karena pesantren menciptakan kader yang berintelektual, religius, dan mendekatka diri kepada Allah SWT. Sebuah masjid yang terdapat di dalam pesantren tersebut, terdengar lantunan adzan yang sangat merdu didengar oleh telinga dan lantunan sholawat sebagai simbol menunggu sang imam untuk memimpin jama’ah. Seperi biasa, masjid itu di imami oleh kyai sendiri sebagai pengasuh pesantren. Tak seperti biasanya santri menunggu iqomah berkumandang sangat lama, tapi nyatanya santri agak lama menunggu jama’ah pada malam itu. Tidak lama kemudian, sang kyai hadir dengan didampingi khodimnya di samping kanan beliau, dengan dipenuhi keringat yang menetes dari dahi beliau, dan dengan berjalan terbata-bata bagaikan orang yang sedang sakit tapi tetap berusaha berjalan. Disitulah santri mengetahui penyebab kyai lama hadir dalam jama’ah. Biasanya beliau selalu datang di awal waktu tapi karena beliau sedang sakit yang serius, beliau hadir agak lama. Ketika beliau sakit, dan salah satu keluarga pengasuh  melarang kyai ke masjid sementara  selama penyakit beliau masih belum sembuh, tapi beliau menolaknya dan berkata “kalau bukan saya (pengasuh) yang mendo’akan santriku, lalau siapa yang akan mendo’akan santri ? begitu ikhlasnya sang kyai dalam mendo’akan santri, sampai-sampai ketika sakit pun kyai tak ingin berhenti mendo’akan santrinya. Sholat jama’ah pun dilaksanakan.
Di malam hari yang sunyi,  terdengar suara ramai mobil di luar. Tak disangka-sangka, di dalam mobil tersebut terdapat kyai beserta keluarga pengasuh akan menuju rumah sakit terdekat. Tapi di tengah perjalanan sang kyai tak kuat menahan rasa sakitnya. Terlihat pada bibirnya ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting. Dengan bibir yang bergetar, sang kyai berusaha mengatakan sesuatu. Disitulah keluarga pengasuh mencoba mengerti apa yang akan diucapkan oleh sang kyai. Sang kyai berkata “santri...santri...santri...aku titip santriku” (pesan kyai sebelum meninggalkan keluarga dan santri kepada salah satu keluarganya). Ketika terdengar ucapan terakhir beliau, keluarga pun meneteskan air mata kesedihan dan keterharuan yang mendalam. Begitu sempatnya sang kyai berpesan untuk santrinya, sedangkan beliau sedang sekarat kesakitan. Hembusan terakhir sang kyaipun terlewat. Keluarga mencoba untuk ikhlas dan tabah atas meninggalnya sang kyai.
Keesokan harinya, pesantren goncang dengan tangisan santri setelah mendengar kabar bahwa sang kyai telah tiada. Santri pun mencoba untuk ikhlas dan sabar. Lantunan surat  Yasiin dan Tahlil  terdengar kemana-mana.  Penduduk desa pun ikut berduka cita. Kini tinggal kenangan semua tentang beliau, pengorbanan, keikhlasan, keadilan, kebijaksanaan, dan ilmu yang telah beliau ajarkan.
Keikhlasan, dan pengorbanan beliau tak ternilai sebesar apapun itu. Semoga beliau ditempatkan di sisi Allah SWT.
*Mahasiswa di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Keikhlasan Sang Kyai"

Post a Comment

close