Jihadisme Toleran

Oleh: Yahya Cholil Staquf*
Sebelum naik cetak, Gus Dur meminta saya membacakan naskah buku The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid yang ditulis Greg Barton itu. Pada bagian pendahuluan, Greg sudah mencicil kesimpulan tentang Gus Dur dengan menyebutnya sebagai ’’pemimpin muslim liberal’’. Saat saya membacanya, Gus Dur serta-merta menyela.
’’Greg keliru itu!’’ katanya. ’’Saya ini bukannya liberal. Saya toleran.’’
Apa bedanya?
’’Kalau liberal, tidak perlu jihad. Setiap individu dipersilakan berpikir apa saja dan menjadi apa saja semau-maunya. Toleran itu tidak meninggalkan jihad, tapi tidak memaksakan kehendak.’’
Mungkinkah berjihad secara toleran?
Jihad adalah perjuangan untuk merealisasikan idealitas-idealitas Islam. Yang perlu diingat adalah bahwa idealitas-idealitas tersebut bertingkat-tingkat. Ada idealitas absolut yang merupakan nilai prinsipil yang tak dapat diganggu gugat selamanya, ada juga idealitas yang hanya bernilai strategis, bahkan taktis. Taktik diabdikan kepada strategi, strategi kepada tujuan absolut. Tak boleh meneruskan taktik yang mencederai strategi ataupun memegangi strategi yang melanggar nilai absolut.
Berdasar mindset semacam itu, para ulama membangun rumusan tentang tujuan-tujuan syariat (maqashid al syarii’ah) ke dalam lima nilai prinsipil yang kemudian disebut sebagai ’’lima prinsip’’ (al dlaruuriyyaat al khams).
Yaitu, memelihara diri (hifdh al nafs), memelihara akal (hifdh al ’aql), memelihara agama (hifdh al diin), memelihara keturunan (hifdh al nasl), dan memelihara harta (hifdh al maal). Sebagian ulama menambahkan satu prinsip lagi, yaitu memelihara martabat (hifdh al ’irdl). Prinsip-prinsip tersebut harus termanifestasi secara seimbang dalam setiap pilihan tindakan untuk dapat dikategorikan sebagai ’’tindakan syar’i’’. Terlebih lagi di dalam jihad.
Dengan demikian, setiap rujukan keagamaan, baik berupa ayat suci Alquran, sunah Rasulullah SAW, maupun hasil ijtihad ulama, perlu didudukkan secara tepat berdasar tingkatan nilainya. Ada rujukan yang bersifat transenden, ada yang temporer atau kontekstual. Rujukan-rujukan yang bersifat temporer atau kontekstual tentu tak bisa begitu saja diterapkan dalam ruang-waktu dan konteks yang berbeda.
Radikalisme yang memicu krisis dunia Islam dewasa ini lahir dari ketidaksediaan memilah-milah rujukan keagamaan menurut cara tersebut. Rujukan-rujukan yang bersifat temporer dan kontekstual dari masa lalu yang jauh dipaksakan secara hantam kromo atas konteks masa kini, sehingga mencoreng wajah Islam. Bahkan, meletupkan konflik-konflik yang amat berbahaya bagi umat manusia secara keseluruhan. Mindset hantam kromo menjadikan kaum radikal tak peduli pada kemaslahatan umum, harmoni sosial, risiko keruntuhan masyarakat secara keseluruhan, tak peduli pada apa pun.
Bahaya yang sama pun muncul ketika umat Islam (orang-orang yang memeluk agama Islam) sebagai kelompok dirancukan dengan Islam sebagai nilai-nilai, kemudian kepentingan kelompok diklaim sebagai kepentingan Islam. Tujuan-tujuan kelompok diklaim sebagai tujuan Islam. Cara berpikir dan mentalitas semacam ini akan mengarah pada cita-cita supremasi (kelompok) Islam dan penaklukan atas semua kelompok lainnya.
Cita-cita supremasi itu pada gilirannya dijadikan pembenar untuk menghalalkan segala cara, termasuk yang bertentangan dengan prinsip-prinsip moral Islam. Korupsi, fitnah, perusakan, bahkan pembunuhan dan teror, semua dianggap sebagai ’’tindakan yang diperlukan’’ demi cita-cita.
Wawasan-wawasan yang tidak valid tersebut merupakan elemen yang menyusun pandangan kaum radikal tentang jihad. Dan, mereka lantas mengklaim diri mereka sebagai mujahidin, sehingga banyak kalangan menganggap ’’jihadisme’’ identik dengan radikalisme dan terorisme.
Sebenarnya, konflik –apalagi diikuti dengan kekerasan– antar kelompok agama dalam konteks peradaban hari ini sudah tidak lagi relevan. Sebab, tidak ada lagi parameter yang secara mutlak memisahkan kelompok agama yang satu dari yang lain, selain perbedaan status agama itu sendiri. Keberadaan umat Islam tidak lagi terkait dengan teritori tertentu, sehingga apa yang dalam kitab-kitab fikih dinyatakan sebagai pembedaan antara teritori Islam (daar al Islam) dan teritori kafir (daar al kufr) secara kategoris tidak lagi ditemukan dalam realitas. Padahal, faktor teritori itu merupakan satu-satunya pembenar bagi konflik dengan kekerasan.
Maka, segala agitasi yang mendorong konflik antara golongan Islam dengan golongan agama lainnya dengan mengatasnamakan agama tidaklah valid secara syariat. Yang ada tinggal jihad untuk memperbaiki akhlak manusia agar menjadi lebih mulia. Itu adalah cita-cita absolut yang sesungguhnya dari Islam, sebagaimana ditegaskan sendiri oleh Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya: ’’Sesunggahnyalah aku diutus tidak lain kecuali semata-mata untuk menyempurnakan kemuliaan-kemuliaan akhlak.’’
Jihad dalam rangka ini sudah tentu harus dilaksanakan dengan strategi dan cara yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam itu sendiri. Dalam hal ini, konflik tidak dapat dipandang sebagai prinsip absolut atau nilai transenden. Paling jauh, konflik hanya bernilai strategi. Karena konflik dengan mengatasnamakan agama tidak lagi relevan, tidak ada pilihan lain selain bertoleransi. Jadi, jihadisme toleran, kenapa tidak?

*Penulis adalah Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, dan Director of Religious Affairs Bayt Ar Rahmah, North Carolina. Artikel dimuat di Harian Pagi Jawa Pos, 5/8/2016. 

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Jihadisme Toleran"

close