Catatan Ringan Jelang Seabad Nahdlatul Wathan (1916-2016)

Oleh: Syukron Dosi*

Perkumpulan Nahdlatul Wathan (kebangkitan/pergerakan Tanah Air) berdiri tepatnya di sebuah gedung bertingkat di Kampung Kawatan Gang VI nomor 22, Surabaya, yang kemudian dikenal dengan perguruan Nahdlatul Wathan (Pergerakan Tanah Air). Tujuannya, untuk mendidik kader-kader muda dan membangunkan semangat nasionalisme mereka yang diinisiasi oleh ulama-ulama muda yang berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah (faham yang mempertahankan sistem bermadzab).

Kiai Abdul Wahab Chasbullah mendirikan organisasi ini untuk menggelorakan semangat nasionalisme di kalangan umat Islam. Bersama beberapa tokoh muda ulama seperti KH Mas Mansur, Kiai Ridwan Abdullah, mas Alwi dan H. Abdul Kahar seorang saudagar asal Surabaya sebagai penyandang dananya. Selain itu, seorang tokoh pergerakan HOS Tjokroaminoto, dan juga Raden Pandji Soeroso, Soendjoto.

Pada 1916, perguruan ini mendapat Rechtsperson (resmi berbadan hukum), dengan susunan pengurus: KH Abdul Kahar sebagai Direktur, KH Abdul Wahab Chasbullah sebagai Pimpinan Dewan Guru dan Keulamaan dan KH Mas Mansur sebagai Kepala Sekolah dibantu KH Ridwan Abdullah.

Sejak itu Nahdlatul Wathan dijadikan markas penggemblengan para pemuda. Mereka dididik untuk menjadi pemuda yang berilmu dan cinta tanah air. Setiap hendak memulai kegiatan belajar, para murid diharuskan terlebih dahulu menyanyikan lagu perjuangan kebangsaan dalam bahasa Arab, yang telah digubah oleh Kiai Wahab dalam bentuk syair seperti berikut:
Ya ahlal wathan, ya ahlal wathan....
Hubbul wathan minal-iman
Wahai bangsaku, wahai bangsaku...
Cinta tanah air adalah bagian dari iman
Cintailah tanah air ini wahai bangsaku
Jangan kalian menjadi orang terjajah
Sungguh kesempurnaan dan kemerdekaan 
harus dibuktikan dengan perbuatan...

Setelah Mas Manshur aktif di Muhammadiyah, kemudian kepala sekolah dijabat oleh Mas Alwi dengan mengembangkan sayap Nahdlatul Wathan di berbagai daerah. Madrasah Akhul Wathan (Saudara Setanah Air) di Semarang, Far'ul Wathan (Cabang Tanah Air) di Gresik dan Malang, Hidayatul Wathan (Petunjuk Tanah Air) di Jombang dan Jagalan, Ahlul Wathan (Warga Tanah Air) di Wonokromo dan Khitabul Wathan di Pacarkeling. Pendirian madrasah-madrasah kebangsaan ini tidak lain adalah sebagai bentuk upaya kaum santri untuk menumbuhkembangkan semangat nasionalisme-religius ala pesantren ke dalam jiwa putera-puteri bangsa kita.

Sejak awal NU bernafaskan kebangsaan. Embrio organisasi NU adalah Nahdlatul Wathan, sebuah gerakan untuk membangkitkan kesadaran berbangsa. Gerakan NW berangkat dari pemahaman dan empati terhadap keadaan nyata rakyat Indonesia kala itu di bawah penindasan politik, hukum, ekonomi, dan budaya rezim kolonial Belanda. Kaum pesantren yang merupakan basis masyarakat kecil seperti petani, nelayan, dan buruh upah, dapat membuka mata akan penderitaan bangsanya lewat penyadaran wawasan kebangsaan, hubbul wathan minal iman. 

Nahdlatul Wathan adalah spirit awal berdirinya NU, lewat jalur pendidikan dan pergerakan kebangsaan.
Piagam Nahdlatul Wathan
Wahai bangsaku, cinta tanah air adalah bagian dari iman, cintailah tanah air ini wahai bangsaku. Jangan kalian jadi orang terjajah, sungguh kesempurnaan itu harus dibuktikan dengan perbuatan. Bukanlah kesempurnaan itu hanya berupa ucapan, jangan hanya pandai bicara.
Dunia ini bukan tempat menetap, tetapi hanya tempat berlabuh. Berbuatlah sesuai dengan perintahnya. Kalian tidak tahu orang yang memutarbalikan dan kalian tidak mengerti apa yang berubah dimana akhir perjalanan dan bagaimanapun akhir kejadian. Adakah mereka memberi minum juga juga pada ternakmu. Atau mereka membebaskan kamu dari beban, atau malah membiarkan tertimbun beban.
Wahai bangsaku yang berpikir jernih dan halus perasaan kobarkan semangat dan jangan jadi pembosan.

Surabaya 1916

* Pegiat PW GP Ansor Jatim 

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Catatan Ringan Jelang Seabad Nahdlatul Wathan (1916-2016)"

close