Takabur dan Kesetaraan Universal

Oleh: KHM Misbahus Salam 

Takabur menurut ilmu sharaf berasal dari kata fiil madli takabbara - yatakabbaru - takabur yang berarti merasa paling besar, paling hebat, paling kuat, dan rasa-rasa kelebihan lainnya.

Jika takabur sudah masuk ke dalam kalbu manusia, maka sikap dan perilaku manusia cenderung menganggap orang lain selalu di bawah dirinya. Bahkan, tidak jarang ia menjadi mudah meremehkan dan mengerdikan orang lain.

Sikap takabur ini juga dikenal dengan sebutan sikap ananiyah, yaitu sikap yang mendahulukan dan mengaku dirinyalah yang dapat menentukan dan mentakdirkan sesuatu.

Takabur terkadang muncul dalam konteks kepribadian seseorang, dalam keluarga serta dalam organisasi. Seseorang yang dirasuki kesombongan (takabur) akan berpengaruh pada akidah dan moralitasnya.

Secara aqidah, ia bisa saja bahkan mengaku sebagai "Tuhan". Dirinyalah yang menentukan segala-galanya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Imam Ghazali bahwa kesombongan itu akan membawa manusia ke arah keujuban, yakni mengagungkan nikmat Allah SWT (Isti dlamu al-nikmati), namun ia lupa terhadap sang pemberi nikmat (al-Munim), yaitu Allah SWT, sehingga apa yang ia nikmati berupa kesehatan, rizki, dan beberapa fasilitas di dunia tidak lagi disandarkan pada Allah SWT.

Begitu pula secara moralitas, kesombongan akan berdampak pada interaksi sosial, baik dalam berteman, bersahabat, dan bersaudara maupun dalam bergaul dengan sesama.

Kebiasaan mutakabbir (orang yang sombong) juga cenderung berbuat dzalim pada orang lain. Mungkin kita semua tahu sejarah tentang Firaun yang bersikap sewenang-wenang kepada rakyatnya. Bahkan Firaun tidak segan membunuh manusia yang dianggap membangkangnya. Akibat sikap kesombongan itu Firaun bersama pengikutnya kena adzab Allah dan mati tenggelam di dasar lautan.

Takabur dalam konteks keluarga, biasanya muncul berupa pengkultusan terhadap suatu bani (keturunan), status sosial, dan kekayaan. Realitas ini kerap kali mencuat ke permukaan. Bagi keluarga yang berasal dari bani terpandang, berstatus sosial tinggi, dan memiliki kekayaan ekonomi, mereka akan merasa enggan, risih bergaul, berteman, bersahabat, dan menjalin tali kekeluargaan dengan keluarga yang berasal dari bani yang tidak terpandang, berstatus sosial rendah, dan miskin.

Sikap diskriminasi seperti inilah yang disebut kesombongan keluarga. Manusia tidak lagi dipandang dari sudut kemanusiaannya, nilai amaliyah, dan atau ketakwaannya. Padahal, Allah SWT menegaskan inna akramakum indallahi atqakum (bahwa kemuliaan manusia itu terletak pada nilai ketakwaannya).

Dalam kaitan ini, atas dasar untuk menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, Islam melalui wadah perjuangan dan kiprah Nahdlatul Ulama (NU) dalam Muktamar XXX dulu telah menyampaikan rekomendasi (taushiyah).

Rekomendasi itu diantaranya menyebutkan pentingnya memelihara persaudaraan (ukhuwah) dan memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan, kemerdekaan (al-hurriyah), keadilan (al-adalah), demokrasi (asy-syura), kesamaan posisi (al-musawa), dan toleransi (al-tasamuh) dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sedangkan, takabur dalam konteks institusi-organisasi ialah sikap arogansi sekelompok orang terhadap kelompok lainnya. Terkadang kita saksikan di lapangan sikap sewenang-wenang penguasa terhadap rakyat kecil, dengan kekuasaan yang ia miliki melakukan penggusuran terhadap rakyat kecil demi memuluskan kepentingan pemilik modal. Institusi yang ia kuasai dijadikan alat untuk takabur pada pihak lain.

Maka, dalam kaitan ini jadikanlah bulan suci Ramadhan sebagai pelajaran untuk bersikap khudlu dan tawadhu. Berusahalah untuk tidak menyakiti orang lain. Ramadhan merupakan bulan yang penuh hikmah, rahmah, dan nikmat.

Dengan puasa kita merasakan lapar dan dahaga, dicegah melakukan persetubuhan dengan istri, tidak bergunjing tentang kejelekan orang lain (ghibah) dan tidak berbuat maksiat.

Melalui pengalaman jasmani dan rohani ini naluri dan perasaanpun bicara. Betapa kasihan orang fakir yang sehari-harinya belum tentu bisa makan; saudara-saudara kita yang hidup di bawah kolong jembatan yang makan dari sisa-sisa makanan yang dibuang; mereka yang hidup di pengungsian atau para buruh yang gajinya tidak mencukupi terhadap kebutuhan hidupnya.

Tentu semua itu akan menjadi perhatian bagi orang yang merasakan hikmah puasa. Dengan meresapi hikmah puasa ini mungkin hati kita yang kini keras bagaikan batu dan berperilaku takabur akan merasa perlu untuk tunduk (khudu - tawadhu).

Dalam tawadhu dapat kita ambil fadhilah atau keutamaan, di antaranya dapat mengangkat derajat seseorang, membawa keselamatan, mendatangkan persahabatan, menghapuskan dendam, dan menghilangkan pertentangan.

Sedangkan, tanda-tanda manusia tawadhu antara lain tunduk dan patuh kepada kebenaran, menghormati orang lain dan menghargai kedudukannya, sederhana dalam berjalan, dan rendah hati serta lemah lembut kepada sesama.

Oleh karena itu laksanakanlah ibadah puasa dan ibadah-ibadah wajib dan sunnah pada bulan Ramadhan ini dengan hati tawadhu kepada Allah SWT, sebab dengan memperbanyak ibadah, dzikir, membaca al-Quran dan melaksanakan shalat, jiwa raga ini akan dibimbing oleh nafsu muthmainnah. Allah SWT berfirman ala bidzikrillahi tathmainnul al-qulub. Maksudnya, hanya dengan dzikir pada Allah, maka hati kita akan tentram.

*) HM Misbahus Salam adalah Pengasuh Yayasan Raudlah Darus Salam Sukorejo Bangsalsari, Jember. (Ant/saiful)

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Takabur dan Kesetaraan Universal"

close