Selama Ramadhan, Puluhan Kitab Dikaji di Pesantren Seblak

Jombang -- Mengisi bulan suci Ramadhan dengan pengajian kitab kuning biasanya dilakukan di semua pesantren. Tidak terkecuali Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Seblak Jombang. Pesantren ini berdiri tahun 1921 oleh KH. Ma'shum Ali dan Hj. Choiriyah Hasyim. Nama terakhir ini adalah putri pertama Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari, pendiri pesantren Tebuireng dan organisasi NU. 

Pesantren ini hanya berlokasi 200 meter arah barat dari makam Gus Dur. Sistem pengajian kilatan Ramadhan tahun ini dibagi berdasarkan jenjang sekolah. Baik MTs maupun MA. "Pengajian dibagi berdasar jenis kelamin, dipisahkan antara santri putra dengan santri putri," ujar Subhan, kepala MTs.

Untuk jenjang MTs kelas putri, dibacakan kitab Akhlaq lil Banin karya Syaikh Umar bin Ahmad Baraja. "Yang membaca Ustadz Farhalim, bertempat di mushala pondok," imbuhnya.

Bagi santri putra jenjang MTs, dibacakan kitab Majmu' Musytamil 'ala Arba' Rasa'il karya Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan. "Kitab ini sengaja dipilih karena sebagian besar membahas tentang shalat, dan ini sangat ditekankan di pesantren sini," ujarnya. 

Di dalam kitab ini, lanjutnya, juga diterangkan tentang ancaman-ancaman bagi orang yang lalai meninggalkan shalat. "Sehingga diharapkan santri di sini akan dengan mudah untuk melaksanakan shalat, tidak cuma shalat wajib, juga shalat sunat," jelasnya. 

Pada jenjang MA, santri putri dibacakan kitab Ta'limul Muta'allim. "Kitab ini karya Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji, tahun ini yang membaca Ibu Nyai Mahshunah di masjid madrasah sana," ujar M. Any Rofiq, kepala MA. 

Bagi santri putra, dibacakan kitab Qami'ut Tughyan karya Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani. "Kitab ini sengaja dipilih karena membahas tentang akhlaq santri dan itu sesuai dengan visi misi Pesantren Seblak sini," imbuhnya. 

Pengajian kilatan ini dimulai pukul 9 pagi. "Setelah semua santri di sini shalat Dhuha mulai jam 7 pagi dilanjut dengan bimbingan baca tulis Al-Qur'an," paparnya. Itu untuk menjaga agar kefasihan santri dalam membaca Al-Qur'an tetap terjaga, meskipun mereka rata-rata sudah membaca Al-Qur'an sendiri setiap ada waktu senggang.

Upaya ini merupakan bagian integral dalam mengisi pekan efektif fakultatif selama bulan Ramadhan. "Jadi, di samping materi pembelajaran yang tidak ketinggalan, siswa juga memperoleh nilai tambah berupa materi dari pengajian ini," tambahnya. 

Pengajian kilatan ini akan berakhir pada tanggal 17 Ramadhan. "Nanti biasanya ditutup dengan buka puasa bersama antara pengasuh, pimpinan madrasah, dewan guru dan semua santri," ujarnya. Agenda rutin ini, lanjutnya, tetap digelar untuk semakin mempererat tali silaturrahim dan ikatan emosional antar undangan yang hadir. 

Kitab lain yang dibaca bulan Ramadhan ini sudah ditentukan oleh hasil rapat majelis pengasuh bersama dewan ustadz pondok. Di antaranya adalah Riyadhus Sholihin, Akhlaq lil Banin, Tafsir Jalalain, Khulashoh Nurul Yaqin, Isti'dadul Maut walima Ba'dal Mawt, Abi Jamrah, dan Mabadi' Fiqhiyyah. (Nuo/saiful)

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Selama Ramadhan, Puluhan Kitab Dikaji di Pesantren Seblak"

close