Ngaji Kitab, Menjaga Matarangkai Ilmu Keislaman

Jakarta -- Pakar tafsir al-Quran dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Muchlis Hanafi, mengatakan, metode pembelajaran kitab kuning harus dikembangkan dan diaktualisasikan dalam konteks kekinian. Sebab, kitab tersebut berisi ilmu keislaman orisinil yang ditulis ulama Nusantara dan Arab.

Ia menjelaskan, kitab kuning merupakan warisan intelektual Islam klasik. Mempelajari kitab tersebut dengan sendirinya akan melestarikan ilmu-ilmu dari para ulama masa silam.

"Jadi mempelajari kitab kuning sama artinya kita menjaga mata rantai ilmu-ilmu keislaman," katanya, beberapa waktu berselang.

Karena itu, menurut Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran Kementerian Agama (Kemenag) ini, kitab kuning layak dipelajari sejak masa sekolah seperti di jenjang tsanawiyah dan aliyah. Jika tidak, hal itu akan berdampak buruk pada kualitas santri yang hendak menimba ilmu di perguruan tinggi Islam. 

"Kualitas input-nya pasti akan menurun karena mereka tidak menguasai bahasa Arab  dan tidak menguasai literatur-literatur dengan baik,'' katanya. 
Muchlis pun tak menampik bahwa saat ini terjadi penurunan pengajaran kitab kuning di ponpes. Meski demikian, doktor lulusan Universitas al-Azhar Kairo, Mesir, ini menilai, kitab kuning masih menjadi rujukan dan andalan ponpes dalam proses belajar-mengajar.

Menurut Muchlis, ada beberapa hal yang menyebabkan intensitas pengajaran kitab kuning di ponpes menurun. Salah satunya karena banyak ponpes yang juga membuka lembaga pendidikan formal seperti tsanawiah dan aliyah.

Ketika ponpes menyediakan lembaga pendidikan formal, kata dia, mau tidak mau ponpes harus menaati tuntutan standardisasi mutu yang ditetapkan oleh otoritas terkait. Dalam konteks ini adalah Kemenag.

"Sekarang ini kan pemerintah sedang giat-giatnya melakukan standardisasi dan sertifikasi sekolah-sekolah itu (tsanawiah dan aliyah). Jadi, pesantren harus menyesuaikan dengan tuntutan itu," ujar dia. 

Pada titik inilah, kata dia, pembelajaran kitab kuning mulai sedikit terpinggirkan. "Misalnya, menjelang ujian nasional, mau tidak mau, banyak waktu pembelajaran kitab kuning yang ditiadakan agar prestasi santri tidak memalukan. Sebab, pembelajaran kitab kuning tidak termasuk formal," jelas dia.

Prestasi santri, sambung Dewan Pakar Pusat Studi al-Quran ini, merupakan hal yang dikejar. "Karena, banyak orang mengukur mutu pendidikan dari pendidikan formal. Dan, ini sangat berpengaruh terhadap pembelajaran kitab kuning,'' jelasnya.

Muchlis berharap, ponpes yang membuka lembaga pendidikan formal tetap mempertahankan pengajaran kitab kuning. Sebab, kitab kuning merupakan warisan intelektual klasik yang menguraikan ragam ilmu dalam Islam. (Rep/saiful)



Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Ngaji Kitab, Menjaga Matarangkai Ilmu Keislaman"

close